Connect with us

Humanoria

Pendidikan Berbasis Ilahiyah

Published

on

CILEGON, FAKTA99.COM – Didalam Islam, anak anak adalah “investasi abadi” bagi para orangtua mereka. Karena amal dan do’a anak anak yang sholeh dan sholehah akan kekal mengalir pahalanya untuk orangtua. Sebaliknya amal buruk anak keturunan akan menjadi beban bagi orang tua mereka di yaumul hisab. Karena itu dalam konteks tanggung jawab orang tua sepanjang hidupnya, wajib menanamkan nasihat, doktrin doktrin serta nilai nilai agama Islam walaupun anak sudah dewasa, tidak boleh dibatasi oleh ruang dan waktu sepanjang hayat.

Ini tentu berbeda dengan konsep liberal yang permissif memberikan ruang kebebasan tanpa batas, yang jauh dari ajaran agama. Dianggapnya bahwa anak punya pilihan hidup sendiri bukan urusan kita lagi ketika mereka dewasa, ini sebuah perspektif pemikiran yang sungguh keliru !. Dalam konteks anak memilih profesi sesuai passion (ghirah, atau minat yang kuat) dan bakat (talent) mereka, tidak masalah jika merujuk pada filosofi Kahlil Gibran, bahwa “rumah masadepan” anak boleh saja berbeda dengan orangtua mereka saat ini. Tapi Gibran, yang puisinya jadi inspirasi banyak orang tua di dunia, tidak secara utuh menginspirasi pendidikan karakter. Ingat bahwa “isi rumah” masa depan anak anak tetaplah tanggung jawab orangtua sepanjang hayat. Anak panah tidak boleh melesat sekenanya.

Sama saja halnya jika kita berinvestasi di tataran konvensional, tentu akan selalu menjaga dan memonitor “at all costs” agar investasi tersebut tetap terjaga fluktuasinya dalam batas batas aman, well running dan menghasilkan ‘rate of return’ (r.o.r) yang bagus bagi investornya di kemudian hari. Ada 5 doktrin pendidikan berbasis ilahiyah, yaitu,

  1. Doktrin Akidah

  2. Doktrin Ahlak

  3. Doktrin Kesalehan individual dan kesalehan sosial, termasuk adab terhadap lingkungan dan alam sekitar.

  4. Doktrin hubungan interpersonal

  5. Doktrin kepemimpinan

ANCAMAN/TANTANGAN nya adalah bagaimana meyakinkan semua pemangku kepentingan sektor kependidikan di Indonesia soal pentingnya memasukkan doktrin doktrin tersebut yang sejatinya diadopsi dari nilai nilai spiritual kedalam aktivitas belajar mengajar. Serbuan pengaruh globalisme di dunia nyata tampaknya lebih bisa ditangkal, namun generasi digital mengalami ujian berat karena serbuan aneka informasi di dunia maya, nyaris tak ada sensor, sementara separuh waktu kegiatan generasi milenial dan generasi mendatang (Z) hampir bisa dipastikan terhubung dengan cyberworld. Membendungnya kecil kemungkinan kalau harus memblokir aktivitas internet. Yang bisa dilakukan tidak lain adalah memperkuat ketahanan intelektual, ketahanan emosional serta ketahanan spiritual mereka menghadapi tantangan hebat teknologi informasi dan multimedia.

Mengenalkan para peserta didik dengan doktrin doktrin ilahiyah bisa dilakukan tidak saja di tataran teori, tetapi juga lewat tadabbur alam, dan ini harus dilakukan sejak dini, anak anak harus mengenal Tuhannya dengan baik, bahkan sebelum mereka diperkenalkan dengan ilmu ilmu lainnya. Dan doktrin ini harus konsisten ditanamkan tanpa kecuali disetiap tingkatan pendidikan.Istilahnya menjadi sebuah “lifelong learning”, ditekankan tentang pentingnya pengabdian total kepadaNya, ini jauh lebih penting daripada belajar itu sendiri. (*)

by RoelMoez

Facebook Comments

Humanoria

Menjadi Pemimpin Level 5

Published

on

FAKTA99.COM – Jim Collins terkenal dengan dua buku yang fenomenal. Pertama berjudul “Built to Last”. Buku kedua berjudul “Good to Great”.

Buku pertama berfokus pada pertanyaan: apa rahasia yang dimiliki sebelas perusahaan global dari berbagai industri, untuk bertahan selama puluhan dan ratusan tahun, bahkan menjadi nomor satu di dunia.

Buku kedua didasarkan oleh pertanyaan: apa rahasia transformasi perusahaan dari nilai “baik” (good) menjadi perusahaan yang “sangat hebat” (great) ?

Ada banyak hal menarik dari hasil penelitian Collins beserta dua puluh orang asistennya selama lima tahun dengan metodologi ilmiah yang sangat solid, yang menjadi bahan dasar buku “Good to Great”.

Collins berkali-kali berpesan kepada tim risetnya untuk tidak memedulikan faktor pemimpin dalam mencari kunci sukses perusahaan.

Ia menganggap kepemimpinan cenderung didramatisir, yaitu kalau perusahaan sukses, itu pasti karena pemimpinnya, demikian juga kalau gagal.

Namun, setiap kali menganalisa tumpukan data-data riset yang menggunung, mau tidak mau mereka menemukan bahwa kepemimpinan adalah faktor yang sangat vital dalam menentukan suksesnya perusahaan.

Semua perusahaan yang mereka teliti, yang telah mengalami terobosan transformatif dalam kinerja dan mampu mempertahankannya secara terus-menerus selama puluhan, bahkan ratusan tahun, ternyata memiliki pemimpin dengan dua karakteristik utama: “personal humility” (kerendah-hatian) dan “professional will” (ambisi profesional).

Kombinasi kedua karakteristik ini menjadi paradoks. Pemimpin yang disebut Collins sebagai “Level 5 Leaders” ini adalah para pemimpin yang rendah hati, tidak menyombongkan diri, bahkan cenderung “pemalu”.

Mereka menunaikan tugas dengan diam-diam tanpa berupaya mencari perhatian dan pujian publik. Apabila mendapat keberhasilan, mereka selalu berusaha untuk memberikan kredit kesuksesan itu kepada orang lain atau hal lain di luar diri mereka sendiri.

Sebaliknya, apabila ada kegagalan, mereka bertanggung jawab secara pribadi dan tidak mencari kambing hitam.

Ambisi mereka adalah untuk kehebatan dan kelanggengan perusahaan atau organisasi, bukan untuk popularitas, kehebatan dan kepentingan diri sendiri.

Sudahkah kita menjadi pemimpin level 5?

Diposting dr. Eifel Faheri.

Facebook Comments

Continue Reading

Humanoria

Datanglah Agama Baru Bernama Dataisme – Homo Deus- A Brief History of Tomorrow

Published

on

FAKTA99.COM – Apa yang membuat manusia merasa superior atas alam dan seisinya? Apa yang membedakan manusia dengan serigala, paus, harimau? Apa yang terjadi besok, apakah manusia akan hilang dari muka bumi?

Pertanyaan-pertanyaan dasar yang muncul di dalam buku Homo Deus, sejarah tentang masa depan yang ditulis oleh Yuval Noah Harari. Buku yang dia tulis sebelumnya berjudul Sapien menggambarkan sejarah tentang manusia, siapa kita, kenapa manusia modern berhasil menyingkirkan saudara-saudara kita sebelumnya? Ada enam jenis manusia dalam sejarah, terakhir adalah Neaderthal yang disingkirkan oleh manusia modern. Di bagian akhir Homo Deus, Harari wanti-wanti ini bukan buku ramalan, dia hanya menggambarkan apa yang sebenarnya sedang terjadi dan apa saja yang mungkin terjadi berdasarkan hal tersebut.

Buku ini menarik dibaca karena menyederhanakan bahasa sains yang ngejelimet bahkan setelah turun di National Geographic. Saya menyukai gaya penulisannya yang dilengkapi dengan banyak contoh dan pertanyaan-pertanyaan sederhana dan membumi. Buat saya yang bukan berlatar belakang sains pasti seperti IPA, tentu saja ini berkah.

Harari membeberkan kenyataan bahwa sains dan agama selalu bertentangan tapi juga selalu beiringan. Agama menyebutkan manusia memiliki kelebihan karena memiliki ruh yang ditiupkan Tuhan ke dalam raga manusia. Tapi dalam sejarah ilmu pengetahuan pasti, para ilmuwan tidak bisa menemukan kehadiran ruh dalam tubuh manusia. Iya, manusia memiliki akal, tapi tak ada ruh seperti juga hewan lainnya. Lalu ruh itu apa?

Satu-satunya alasan yang bisa membuat manusia merasa superior dari hewan adalah kemampuannya menulis, tentang sejarah keberadaannya. Tanpa itu, manusia tak lebih dari hewan yang bisa dijelaskan secara keilmuwan tentang kemampuan raganya beradaptasi dengan kehidupan.

Di buku ini Harari menjelasan perjalanan dogma yang membuat manusia hidup sebagai makhluk social dengan normanya yang diatur dalam agama sebagai imagined order, lalu paham politik seperti komunisme, liberalisme dan humanisme. Liberalisme – Humanis adalah kita hari ini, bahwa kita memiliki kebebasan individu yang mutlak, bebas memilih, bebas berpikir bahwa dunia ini bergerak karena kemampuan kita pribadi sebagai manusia. Or is it?

Lalu datanglah dimana dimana Tuhan baru bernama Data itu muncul. Tuhan atau Dewa yang lahir dari Silicon Valley, yang mengumpulkan data untuk kemudian diolah dan dikembalikan sebagai ‘pilihan’ yang tersedia untuk manusia. Data adalah sumber kehidupan. Data lebih tahu daripada diri kita sendiri. Data mengontrol kehidupan kita sebenarnya. Bahwa manusia tak lebih dari algoritma yang bisa diatur tentang pengalamannya, emosinya dan keputusannya. Facebook dan Google tahu lebih banyak tentang diri kita dan masa depan daripada kitab suci yang dibuat oleh manusia ratusan tahun silam.

Pada akhirnya manusia akan tergantikan oleh manusia-manusia super dengan intelejensia super, yang Harari sebut sebagai Homo Deus. Kita akan musnah, kecuali jika terus mengupgrade dan mengupdate semua informasi dan data yang tersebar bebas di dunia maya dan nyata. Tapi bahkan ilmuwan tak membaca jurnal setiap saat, lalu kita?

Kalimat-kalimat yang tertulis di sampul belakang buku sangat menarik untuk dicatat:

You are more likely to commit suicide than be killed in conflict

You are more at risk of obesity than starvation

Equality is out – immortality is in.

Semakin canggih teknologi, semakin tinggi kesenjangan yang terjadi di dunia. Karena teknologi mahal harganya yang hanya bisa dinikmati oleh WEIRD – Western, Educated, Industrialised, Rich and Democratic society yang tidak mewakili sampel manusia secara keseluruhan.

Baca aja deh, Homo Deus ini ga cocok buat kamu yang bersumbu pendek karena ada banyak yang menyinggung soal ulama, pendeta dan rabi yang tidak berguna bagi kesejahteraan dan kebahagian manusia karena hanya menjual ‘khayalan’ dan tidak memberikan kontribusi pada kehidupan kecuali sejarah tentang kekerasan.

#nroshita

Facebook Comments

Continue Reading

Humanoria

Perang Fakta dan Opini Antara “Tragedi Sembako Maut di Monas” VS “Persekusi di CFD”, Cerminan Masyarakat Yang Terbelah

Published

on

FAKTA99.COM – Bangsa ini memang sudah “terbelah”, diakui atau tidak, suka atau tidak dengan kenyataan ini, kita tak bisa menampik fakta bahwa masyarakat kita telah terbelah sejak Pilpres 2014 dan kembali menajam ketika Pilgub DKI 2017 lalu.

Jangankan soal aspirasi politik dan preferensi terhadap tokoh, bahkan sekedar untuk bersimpati pada korban-korban kejahatan kemanusiaan maupun sekedar mengutuk kelalaian suatu kelompok yang mengakibatkan korban jiwa, sebagian dari kita harus “mikir” dulu, bertanya dulu siapa korbannya. Dari kubu ‘kami’ atau ‘mereka’. Bahkan seandainya korban bukan dari kubu ‘kami’ atau ‘mereka’, kira-kira membawa nilai tambah tidak untuk kubu ‘kami’ kalau kami ikut mengecam/mengutuki pelaku atau minimal memberikan simpati kepada korban.

Kita tentu masih ingat soal Hermansya, yang dipersekusi dengan alasan mobilnya menyenggol mobil lain di jalan tol. Karena Hermansya adalah ahli IT yang turut memberikan pendapatnya bahwa chat-sex yang dituduhkan kepada Habib Rizieq Shihab adalah palsu, maka yang memberikan simpati serta mengutuki pelaku adalah kubu yang pro Habib Rizeq.

Sementara yang kontra Habib Rizieq alih-alih bersimpati kepada korban, mereka justru menebarkan fitnah keji menyangkut kehidupan pribadi istri Pak Hermansya, yang malam itu justru jadi perempuan hebat yang tanpa rasa takut dan panik mampu membawa suaminya yang terluka parah ke RS sehingga nyawanya tertolong.

Gila! Cukuplah kalian diam jika tak mau menyampaikan simpati. Bukannya malah memperkeruh keadaan dengan menambah penderitaan moril korban dengan fitnah keji. Mungkin kalau bisa mereka malah ingin memuji kerja preman-preman yang telah membacok Hermansya, na’udzubillaah…!

Jangan lagi ditanya apa pendapat mereka soal persekusi yang menimpa Ustadz Tengku Zulkarnain, Fahri Hamzah dan Ustadz Abdus Somad. Padahal persekusi itu melibatkan banyak orang yang membawa senjata tajam, masuk ke hotel bahkan ke area di dalam bandara yang seharusnya terjamin keamanannya.

Jangan berharap persekusi terhadap nama-nama tersebut akan mendapat simpati dari sekelompok masyarakat yang menganggap tokoh-tokoh tersebut adalah bagian dari kubu ‘mereka’.

Bagaimana dengan Novel Baswedan?!

Dia penyidik KPK, sudah jadi penyidik sejak lama, bahkan menangani kasus korupsi besar melibatkan pejabat negara sudah sejak kasus Nazaruddin, tahun 2011, juga Irjen Pol. Djoko Susilo tahun 2012.

Dulu mungkin semua pihak memujinya dan siap membelanya.

Tapi ketika Novel mengalami persekusi oleh orang-orang misterius, pagi hari sepulang sholat Subuh yang menyebabkan sebelah matanya buta tersiram air keras, hanya sebagian masyarakat yang mengecam habis-habisan apa yang menimpa Novel.

Meski Novel Baswedan bukanlah bagian dari kubu ‘kami’ maupun kubu ‘mereka’, namun karena Novel adalah penyidik KPK yang saat itu sedang dikonfrontir dengan salah satu anggota DPR RI yang tak lain juga aktivis bahkan pentolan dari organisasi pendukung cagub DKI petahana, maka simpati kepada derita Novel Baswedan pun hanya mengalir dari sebagian masyarakat saja. Novel yang orang “netral”pun seakan diposisikan ‘bukan kubu kami’ oleh sebagian masyarakat kita.

Itulah cerminan dari masyarakat yang terbelah. Perspektif tentang “korban” dan “persekusi” pun dibuat menjadi bias.

Tergantung siapa yang jadi korban dan siapa yang jadi pelaku.


Yang lagi ramai jadi topik perbincangan sepekan ini adalah 2 kejadian yang sama-sama NYATA, dalam arti benar-benar terjadi, terlepas apakah kejadian tersebut murni terjadi begitu saja ataukah merupakan kejadian yang direkayasa alias sudah disetting sedemikian rupa agar terjadi.

Dua peristiwa itu terjadi di tempat dan waktu yang berbeda, dalam 2 hari yang berurutan yaitu Sabtu dan Minggu, tanggal 28 dan 29 April 2018.

Kejadian pertama adalah terenggutnya 2 nyawa anak-anak dalam event pembagian sembako yang diselenggarakan oleh Forum Untukmu Indonesia di Monas, pada Sabtu siang, 28 April 2018.

Beberapa hari sebelumnya upaya pengumpulan massa sudah dilakukan dengan cara membagikan 3 buah kupon warna-warni : 1 kupon sembako, 1 kupon makan dan 1 lagi kupon entah apa. Kupon-kupon berlogo burung merpati itu kabarnya dibagi-bagikan melalui RT dan RW kepada masyarakat Jakarta dan sekitarnya.

Sabtu siang, 28 April, massa yang hadir untuk menukarkan kupon membludak. Yang datang ke Monas warga kurang mampu yang tergiur iming-iming sembako murah.

Celakanya, panitia tidak melakukan persiapan yang memadai. Sudahlah makanan yang disajikan kurang layak (karena hanya nasi plus 2 potong nugget dan saos sambal), masih harus antri panjang di bawah terik matahari pula.

Paket sembako yang dibagikan pun sangat minim.

Tampak bahwa panitia dengan modal cekak namun ingin mengumpulkan massa dalam jumlah besar.

Akibat ketidaksigapan panitia, jumlah massa yang antri tidak seimbang dengan jumlah panitia yang melayani, maka antrian panjang itupun memicu desak-desakan. Ditambah dengan kondisi panas, maka mulailah ada yang terjatuh.

Tak ada yang sigap menolong anak yabg jatuh di tengah lautan massa, ditambah cuaca panas, maka jatuhlah 2 korban jiwa. Nyawa mereka tak bisa diselamatkan.

Innalillahi wa inna ilaihi roji’uun…

Peristiwa kedua terjadi keesokan harinya, Minggu pagi, 29 April 2018, di area Car Free Day (CFD) sekitar jalan Thamrin dan sekitarnya.

Seorang Ibu mengenakan kaos bertuliskan “Dia sibuk kerja” bersama putranya, berjalan berdua di antara ratusan bahkan ribuan massa yang mengenakan kaos bertagar #2019gantiPresiden.

Tak pelak, si ibu mengalami kejadian yang tidak menyenangkan. Dia dikerumuni laki-laki berkaos “ganti presiden” bahkan dikibas-kibaskan uang, disodorkan makanan, dll.

Putranya kemudian menangis, sementara si ibu berteriak-teriak menyatakan dirinya tidak takut. Bahkan lucunya, si ibu langsung berteriak “Muslim macam apa kalian?!” padahal orang-orang yang mengelilinginya sama sekali tak memakai atribut yang menjadi ciri penanda khas Muslim.

Dari mana si ibu bisa menyimpulkan pria-pria pengganggunya adalah Muslim?!

Kasus ini benar terjadi, si ibu benar mengalami kejadian tidak menyenangkan itu. Walaupun kemudian ada kecurigaan bahwa kejadian tersebut tidaklah murni melainkan setting-an.

Karena ada beberapa orang yang dikategorikan sebagai pelaku dan juga korban, yang amat sangat kebetulan memakai gelang yang sama, berbentuk mirip tasbih di pergelangan tangan mereka.

Oke, abaikan dulu soal settingan atau murni kejadian spontan, kita fokuskan bagaimana reaksi publik dan aparat yang tercipta atas 2 kejadian di atas.


YANG MISKIN DIREMEHKAN, YANG AKTIVIS DI-BLOW UP

Korban dari kejadian pertama adalah wong cilik, kelompok masyarakat miskin. Orang tua almarhum Rizki tidak memiliki akaes kepada sumber-sumber informasi dan advokasi.

Boro-boro punya akun medsos, kenal medsos saja mungkin tidak. Maka, kondisi LEMAH inilah yang kemudian justru membuat beberapa pihak makin gampang menyepelekan derita keluarga korban.

Aparat kepolisian awalnya membantah kabar ada yang meninggal dalam acara bagi sembako di Monas. Ketika kemudian foto jenazah viral di media sosial dan WAG, polisi baru mengakui benar ada yang mati. Namun kemudian ada yang menyatakan bahwa yang meninggal itu adalah anak yang mengidap keterbelakangan mental.

Wow! Apakah jika seandainya pun benar korban terbelakang mentalnya, lalu kematiannya menjadi “nothing”?! Seolah seperti kematian kucing kurap yang tak perlu dipersoalkan?!

Astaghfirullah! Dia anak bangsa Indonesia juga lho! Yang harus meregang nyawa demi sepaket sembako tak seberapa dan sekotak kecil nasi berlauk nugget.

Miris jika kita tak punya empati pada saudara sebangsa yang mengalami kejadian ini!

Lalu berikutnya dinyatakan bahwa si anak meninggal bukan karena antri sembako, melainkan berada di luar pagar Monas. Jika benar berada di luar pagar Monas, maka tentunya orang yang jatuh akan mudah diselamatkan, karena tidak berada dalam kerumunan massa.

Lagi pula, jika kematian kedua anak tersebut tidak ada hubungannya dengan acara bagi-bagi sembako, kenapa pula panitia harus meminta maaf dan mengakui mereka lalai serta menyesalinya, seperti diungkap Pak Wagub Sandiaga Uno?! Sandi nge-hoax?! Ya tinggal dituntut saja, agar terbukti siapa yang berbohong!

Jika meninggalnya diluar pagar Monas, kenapa pula ada orang yang mendatangi keluarga korban mengaku dari Relawan Merah Putih, meminta keluarga korban agar tutup mulut, tidak berbicara kepada siapapun termasuk kepada media, soal kematian anaknya?!

Kemiskinan, rendahnya pendidikan, minimnya wawasan, tidak adanya akses pada sumber informasi, tidak dimilikinya jaringan pembelaan, lengkap sudah penderitaan keluarga korban meninggal. Seharusnya dalam kondisi NORMAL hal ini akan menyulut simpati, mengundang rasa iba dan menggerakan hati untuk membela.

Namun kenyataannya tidak demikian, sebab HATI NURANI SUDAH MATI!

Mohon maaf ibu Komariah, kami tak bersimpati pada anda, kami terpaksa katakan kematian anak anda hoax belaka, anak anda mati bukan karena antri sembako, itu semua kami lakukan karena kalian bukan dari kubu ‘kami’ sedangkan panitia penyelenggara acara adalah kubu ‘kami’.

Apakah demikian pemikiran mereka yang mencoba mengecilkan arti kematian kedua anak akibat berdesakan antri sembako?!

Miskin atau kaya, berpendidikan tinggi atau tidak, kehilangan nyawa anak sama perihnya. Kasih sayang orang tua terhadap anaknya tidak bisa diukur dari kelas sosial ekonomi.

Justru karena wong cilik yang kehilangan, seharusnya malah memicu kepekaan nurani untuk membelanya agar mereka mendapatkan hak-haknya.

Bukan malah mengeroyok mereka dengan mengecilkan penderitaannya.

Keluarga korban sebenarnya bukan bagian dari kubu manapun. Mereka bukan dari kubu ‘kami’ atau ‘mereka’ dalam konteks bangsa yang terbelah karena situasi politik ini.

Tetapi, ikut membela keluarga korban dan memblow up kasus kematian kedua anak tersebut, sama sekali tidak membawa keuntungan bagi kelompok tertentu. Bahkan bisa jadi justru akan merugikan kubu ‘mereka’ karena panitia akan jadi “tersangka” utama. Sedangkan panitia penyelenggara acara, diduga kuat adalah bagian dari kubu ‘mereka’.

Sebaliknya, dari kejadian kedua di are CFD hari Minggu, ibu Susi, adalah seseorang yang well connected dengan media sosial. Hanya selang hitungan jam, dia sudah menyebarluaskan kabar tentang apa yang menimpa dirinya melalui akun medsosnya. Dengan narasi yang heroik, dia mampu mengeksplorasi kejadian yang menimpanya.

Teman-temannya langsung merespon dan memviralkan.

Latar belakangnya sebagai aktivis (sebagaimana diakui oleh anggota PSI yang mendampingi ibu Susi melapor ke kepolisian) membuat ibu Susi punya akses luas untuk mendapatkan pembelaan. Dia punya jaringan, itu sebabnya para aktivis sosmed dari kubu tertentu langsung menjadikannya super hero wanita yang terus menerus ditulis kisahnya dan diviralkan.

Begitupun media televisi. Dalam tempo sekejap kejadian yang menimpa ibu Susi segera dikemas dalam berbagai bentuk tayangan. Bahkan program acara Mata Najwa pun memberikan panggung khusus bagi ibu Susi.

Selain aktivis, ibu Susi juga seorang marketing Meikarta. Dia pernah mengabarkan dirinya menerima fee dari Meikarta. Tentunya fee diterima atas keberhasilannya memasarkan hunian di Meikarta. Seorang marketing tidak diragukan lagi pasti memiliki kemampuan verbal yang baik, punya kemampuan persuasif/mempengaruhi orang lain, mampu membujuk dan meyakinkan orang lain. Maka, lengkaplah sudah segala kelebihan ibu Susi. Sangat kontras dengan segala kelemahan ibu Komariyah yang kehilangan Rizki, putranya.

Perpaduan antara figur aktivis sekaligus marketing dalam sosok Susi, sebenarnya sudah cukup membuatnya mampu membela dirinya.

Lihatlah bagaimana dia me-manage penampilannya, dari yang semula rambut tergerai menjadi tertutup kerudung.

Dari semula Susi selalu menampilkan wajah cerah ceria penuh tawa di akun medsosnya, bahkan foto-foto pada hari kejadian pun yang dia unggah masih foto dengan tawa lebar penuh percaya diri. Namun pasca peristiwa di CFD dan sejak wajahnya mulai disorot kamera media massa, dia tidak lagi umbar tawa. Susi bahkan mulai mengesankan wajah seorang “korban”. Di acara Mata Najwa, Susi bahkan melengkapi ceritanya dengan tangis.

How come?! Pada saat kejadian dia begitu berani berteriak-teriak, setelah kejadian masih bangga menulis di akun FBnya tanpa ada nuansa sedih, tapi 3 hari kemudian tampil dengan polesan make up tebal, hijab yang mulai tertutup ala ibu pejabat, plus isak tangis.

Sebuah panggung istimewa yang tidak akan diberikan media massa komersiil kepada ibu Komariyah yang lugu, polos, miskin dan tidak camera-face.

Bu Komariyah tidak akan mampu bertutur dengan baik dan dramatis, karena yang bisa dia lakukan hanyalah bercerita apa adanya, jika ditanya.

Tapi itulah ironisnya, sosok Susi yang memiliki banyak kelebihan, kemampuan verbal yang bagus, akses ke media sosial dan media mainstream, justru malah mengundang blow up dan pembelaan.

Sekali lagi, ini BUKAN SOAL KEBERPIHAKAN, tapi karena Susi adalah kubu ‘kami’ bagi kelompok tertentu.

Dan kenapa ibu Komariyah tidak layak dibela?! Sebab dia dan anaknya adalah korban eksploitasi kubu ‘kami’ dari kelompok tersebut.


KEJADIAN MANA YANG MENUTUPI KEJADIAN LAINNYA??

Logikanya, jika ada kejadian yang hendak ditutupi dengan memunculkan kejadian lainnya, maka manakah yang ditutupi?!

Namanya juga “MENUTUPI”, maka logisnya kejadian yang lebih dulu terjadi ditutupi dengan kejadian yang belakangan, bukan?!

Nah!!

Kejadian di Monas adalah kejadian yang lebih dulu terjadi.

Kedua anak malang itu meninggal di hari Sabtu, 28 April 2018.

Sedangkan kejadian persekusi yang menimpa ibu Susi baru terjadi esok harinya, Minggu pagi, 29 April 2018.

Jadi, jika ada yang mengatakan bahwa upaya untuk mengabarkan kematian 2 anak dalam event bagi-bagi sembako oleh Forum Untukmu Indonesia itu hanya untuk menutupi kasus persekusi yang menimpa Susi Ferawati, mungkin orang tersebut harus dijungkir balik dulu agar otaknya kembali normal.

Betapa tidak, bagaimana mungkin kejadian yang lebih dulu terjadi kok malah untuk menutupi kejadian yang belakangan?!

Kematian kedua anak itu harus diusut tuntas, seperti kata Reza Indragiri Amriel, seorang kriminolog yang juga aktivis Lembaga Perlindungan Anak Indonesia, bukan semata karena 2 anak itu sudah meninggal, tapi demi hak-hak anak lainnya, yang pada event tersebut juga kehilangan hak-haknya, tidak mendapatkan pelayanan semestinya, hanya saja anak-anak lainnya masih beruntung karena tidak sampai terjatuh dan terinjak-injak massa.

Jika ada yang menyuarakan agar panitia bertanggung jawab atas kematian 2 anak tersebut, ini demi KEADILAN SOSIAL bagi siapapun rakyat Indonesia, meski mereka miskin seperti ibu Komariyah.

Bukan karena hendak menenggelamkan kasus ibu Susi.

Sekali lagi, perang fakta dan opini atas 2 kasus di atas sudah meniadakan rasa simpati kepada wong cilik, hanya karena dia bukan kubu ‘kami’.

Nyawa 2 anak yang melayang sia-sia menjadi tidak berharga dibandingkan seorang ibu yang merasa dipersekusi.

Itu semua karena 2 anak malang itu bukan kubu ‘kami’ bagi sebagian pihak.

Termasuk bagi aparat penegak hukum dan pemodal media mainstream???

Publik tentu bisa menilai sendiri.

Masyarakat yang terbelah telah membuat hati nurani makin kering dan mungkin lama-lama mati.

Keadilan sosial hanya slogan tanpa ruh, tanpa spirit.

SAYA INDONESIA, SAYA PANCASILA, hanyalah teriakan membentur tembok, yang pada prakteknya menjadi “kamu di kubu siapa, baru kami akan bela”.

Kalau kamu bukan kubu ‘kami’, maaf saja, deritamu hanyalah soal kecil bagi kami.

Bahkan kematian pun tak membuat kami iba. Karena yang mati bukan dari kubu ‘kami’.

Innalillaahi wa inna ilaihi roji’uun…, kali ini untuk KEMATIAN HATI NURANI BANGSA YANG TERBELAH.

(Sumber: Iramawati Oemar)

Facebook Comments

Continue Reading

Iklan

Trending