Connect with us

Berita Daerah

Skema Pembiayaan Bandara Ahmad Yani

Published

on

Fakta99.com – Semarang sudah punya bandara berkelas international. Pembangunan dilakukan atas dasar business as usual. Mengapa? Bandara ini masuk dalam katagori lack capacity. Artinya kapasitas yang ada tidak bisa menampung ledakan penumpang. Ini dibiarkan di era SBY. Di era Jokowi, Proyek perluasan Bandara ini dimasukan dalam proyek strategis. Artinya masuk skala prioritas. Lantas darimana dananya ? Pembiayaan fasilitas udara di diambil dari anggaran Kementrian perhubungan sebagai pos anggaran PSO. Namun dari sisi terminal ditanggung oleh Angkasa Pura. Jadi pembiayaan nya menggunakan skema hydbrid BUMN dan PSO. Dengan demikian secara ekonomi pembiayaan bandara ini jadi sangat efisien dari segi cost of fund.

Desain bandara baru Ahmad Yani Semarang secara keseluruhan mengadopsi konsep eco-airport karena sebagian bangunan berdiri di atas air. Maka tidak heran jika banyak hiasan atau taman dengan konsep kolam yang asri di bandara ini. Jadi benar benar di design secara komersial. Total dana sebesar Rp. 2 triliun. Bagaimana skema pembiayaannya ? Angkasa Pura menyediakan dana sebesar 30% dari total anggaran. Sisanya dibiayai oleh EPC loan melalui konsorsium BUMN kontruksi, yaitu PT Waskita Karya, PT Hutama Karya, PT PP, PT Nindya Karya dan PT Abipraya. Dengan demikian neraca Angkasa Pura tidak tertekan rasio DER nya.

Setelah proyek itu selesai maka Angkasa Pura membentuk SPC ( anak perusahaan yang sahamnya dikuasai Angkasa Pura ) sebagai pengelola bandara itu. SPC inilah yang akan melakukan refinancing dengan menjaminkan future revenue proyek ini. Refinancing itu bisa melalui penerbitan surat utang atau melalui bank. Apakah menarik. Pasti menarik. Mengapa ? karena bandara A Yani ini dalam kondisi lack capacity. Kapasitas ideal Bandara Ahmad Yani eksisting hanya mampu menampung 800 ribu penumpang setahun sedangkan trafik penumpang yang melalui Bandara Ahmad Yani tercatat mencapai 4,4 juta orang pada 2017.

Dengan kapasitas terminal baru yang dapat menampung hingga 6 juta penumpang per tahun dan desain yang mengadopsi konsep eco-green airport, maka calon penumpang pesawat udara dapat lebih leluasa dan nyaman berada di terminal baru. Jadi Potensi pertumbuhan penumpang sebesar 10 persen tiap tahunnya juga dapat diakomodir oleh keberadaan terminal dan infrastruktur baru Bandara Ahmad Yani. Dengan demikian marketnya sangat kuat untuk mendatangkan laba dimasa depan. Apapun skema refinancing akan di tabrak oleh perbankan atau pasar uang. Menurut hitungan dalam 5 tahun sudah return. Hasil refinancing itu digunakan untuk membayar EPC loan kepada Konsorsium BUMN.

Skema pembiayaan ini sama dengan skema pembiayaan Bandara Kertajati dan lainnya yaitu menggunakan hybrid financing. Pada akhirnya yang membiayai langsung adalah masyarakat lewat penjualan jasa bandara. Semua terlaksana tanpa menekan APBN yang masih defisit dan fiskal tetap terjaga dalam kehati hatian. Terimakasih Pak Jokowi. Semua team dari Bappenas, Kementrian Keuangan, Meneg BUMN dan semua direksi BUMN memang qualified kerja walau tanpa dukungan sepenuhnya dari APBN. Bawahan hebat karena punya pemimpin orang hebat.

Facebook Comments

Berita Daerah

Fenomena Mudik Lebaran

Published

on

Fakta99.com – Pada awalnya “Mudik” merupakan istilah yang digunakan oleh orang-orang Jawa, yang kemudian menjadi populer ditelinga masyarakat Indonesia. Istilah ini berasal dari kata “udik” yang berarti arah hulu sungai, pegunungan, atau kampung/desa. Orang yang pulang ke kampung disebut “me-udik”, yang kemudian dipersingkat menjadi mudik.

Kata udik juga kerap dikonotasikan dengan bebal, bodoh, bego, kampungan dan beberapa kata negatif sejenisnya. Namun dalam pengertiannya yang lebih tepat, udik yang mengandung makna bagian atas sungai, yang jernih, bersih, yang kita gunakan dalam konteks ini. Kata “mudik” juga punya arti naik yang dapat dimaknai secara spiritual, yakni upaya menaikkan spiritualitas kita agar lebih tinggi lagi setelah sekian waktu berada dalam kehidupan metropolitan dan kehilangan spiritualitas, karena dipenuhi persaingan dan pola hidup materialistik. Secara psikologis, mudik memberi sumber kekuatan mental baru.

Mudik. Kira-kira apa yang terbayang dalam benak kita begitu mendengar kata ‘mudik’? Mungkin seperti hiruk-pikuk kendaraan dan armada angkutan yang dipenuhi lautan manusia yang berbondong-bondong kembali ke kampung halaman masing-masing serta berbagai peristiwa yang berkaitan dengan mudik.

Fenomena mudik selalu terjadi setiap tahun menjelang Idul Fitri. Hal itu juga terjadi di Cina, menjelang Imlek. Keadaan serupa terjadi negara Barat, saat merayakan Thanksgiving, atau mendekati Natal dan Tahun Baru. Mobilitas penduduk, pada saat-saat itu seperti meningkat pesat. Di Indonesia, terjadi arus luar biasa setiap tahun menjelang Idul Fitri, khususnya dari Jakarta ke seantero Indonesia. Inilah sebuah fenomena yang terjadi setiap tahun, yang selalu luput dari penyelesaian. Jadinya, mudik memang merupakan kebahagiaan sekaligus derita fisik bagi yang menjalankannya.

Mengapa orang ingin mudik? Bisa jadi untuk melepaskan kerinduan pada kampung halaman dan bisa juga untuk menikmati liburan Idul Fitri bersama keluarga, karena hanya Idulfitri kita menikmati libur cukup panjang yang diperhitungkan sebagai cuti bersama. Ditambah dengan cuti pribadi yang digabungkan, kita punya waktu libur kira-kira satu atau dua minggu.

Mudik juga bisa menjadi semacam terapi yang menguatkan hubungan kekeluargaan. Dalam aspek psikologis, mudik akan membangkitkan kesegaran dan tenaga baru bila mereka kembali bekerja di kota. Oleh karena itu mudik Lebaran, selain menjadi tradisi tahunan, juga memiliki efek perbaikan hidup atau terapi untuk rasa kehilangan bagi mereka yang hidup jauh dari orang tua dan keluarga.

Sebaliknya, fenomena mudik sering dijadikan sebagai media untuk menunjukkan sukses di kota. Status sosial yang diperoleh perlu diketahui oleh sanak-keluarga. Maka mereka pun ikut mudik dengan kendaraan sendiri. Anehnya, ternyata tarikan sosiologis serupa sangat kuat, sebab tidak sedikit orang kota yang mudik sambil bersandiwara. Mereka datang dengan mobil pribadi, walau harus menyewa dari rental.

Pada umumnya orang Indonesia rutin pulang ke kampung halaman menjelang Idul Fitri atau Lebaran. Tak peduli besarnya kesulitan yang dihadapi untuk itu. Mereka rela antri berjam-jam untuk mendapatkan tiket bus atau kereta, atau bahkan menyewa mobil. Berdesak-desakkan di dalam angkutan umum, berpanas-panasan di atas sepeda motor dan macet berjam-jam di jalanan merupakan kejadian yang selalu terjadi di setiap Lebaran. Bagi mereka, kerepotan, penderitaan dan kesulitan yang dihadapi selama dalam perjalanan pulang kampung tidak dianggap ada setelah mereka bertemu dengan anggota keluarganya.

Seluruh jerih payah itu satu per satu dijalani demi terealisasinya satu kata, “pulang”. Ribuan orang desa berbondong-bondong pulang kampung dari kota Metropolitan menuju kampung halaman atau desa dimana mereka berasal. Otomatis, Jakarta sunyi dan senyap dalam rutinitas kota untuk beberapa hari menjelang Lebaran. Tak bisa dipungkiri, mudik merupakan tradisi rumit yang membutuhkan persiapan fisik mental dan tidak lupa tetap memegang azas keamanan dan keselamatan dalam perjalanan.
Mudik telah menjadi budaya yang mendarah daging pada bangsa ini. Ada Lebaran, ada mudik. Barangkali itulah yang terjadi saban tahun di Negri kita, Indonesia.

Di balik tradisi mudik yang dianggap sebagai kearifan budaya bangsa Indonesia, terkuak pula tabir ketimpangan social yang luar biasa. Ritus kembali ke kampung halaman ini seringkali memunculkan fenomena yang bertentangan dengan akal sehat.

Kita selalu melihat setiap tahun bagaimana sebagian orang yang telah menjalani puasa Ramadhan selama sebulan justru sudah tak peduli lagi dengan orang lain dan mementingkan ego sendiri, saling sikut, saling berebut kesempatan saat masuk kendaraan umum, bahkan tak jarang menimbulkan penyimpangan sosial.

Di sisi lain, kegairahan mereka yang merayakan hari kemenangan pertempuran rohani lewat ibadah shaum sebulan penuh, dimanfaatkan dengan begitu baik oleh kalangan pebisnis untuk merangsang pola konsumtif yang meledak-ledak. Suasana Lebaran tampaknya selalu menjadi ajang di mana orang merasa harus meningkatkan arus belanjanya secara berlipat.

Mudik benar-benar menjadi dilema, dimana hasrat pemudik begitu menggebu-gebu ingin sampai kampung halaman bertemu sanak keluarga. Namun justru ritus inilah yang seringkali membuat kemacetan, kriminalitas, dan kecelakaan lalu lintas meningkat dimana-mana. Belum lagi, instabilitas ekonomi yang tercipta akibat ulah pengusaha yang mencari untung dari tradisi tahunan ini. Sayangnya, sebagian besar orang masih memandang tradisi mudik ini positif, dan membiarkan segala kerumitannya menjadi hal yang biasa. Padahal, jika dianalisis, tradisi ini justru secara gamblang menelanjangi berbagai masalah dan ketimpangan sosial di negeri ini. Fenomena-fenomena yang terjadi diantaranya:

Pertama, arus urbanisasi, fenomena lengangnya kota-kota besar dan ramainya desa-desa. Ini menunjukkan, beban berat kota besar di Indonesia khususnya Jakarta sebagai pusat ibu kota, selama ini disebabkan oleh menumpuknya jutaan manusia di sana. Mengapa tradisi mudik lebaran menjadi sangat fenomenal di negeri ini? Ini terkait dengan politik pembangunan. Mudik terjadi karena terpusatnya kegiatan kehidupan di kota dan melemahnya fungsi kehidupan di desa. Fungsi-fungsi kota di daerah tidak diberdayakan secara optimal sehingga orang memilih memburu kehidupan dan mencari pekerjaan di kota-kota besar. Padahal kota besar seperti Jakarta belum tentu menjanjikan dan tak seindah yang mereka bayangkan. Betapa kehidupan metropolitan sangat keras dan kejam bagi mereka yang tak memiliki keahlian dan keterampilan.
Kesuksesan merupakan bayang-bayang mudik yang paling pekat.

Arus urbanisasi ini meningkatkan angka kemiskinan yang signifikan. Bisa terlihat, dari tahun ke tahun, Jakarta dipenuhi sesak oleh pendatang baru yang berdatangan mengadu nasib untuk meraih kehidupan yang lebih baik. Kenyataannya, justru sebaliknya mereka kebanyakan terlunta-lunta di jalanan menjadi tunawisma dan pengemis.

Arus urbanisasi musiman ini terjadi karena masih mengakarnya paradigma pembangunanisme (developmentalism) yang sentralistik. Suatu paradigma yang memaksa banyak orang desa hijrah ke Jakarta, Bandung, Surabaya, dan kota-kota besar lainnya setiap tahun. Hal ini kemudian membawa konsekuensi berupa kesenjangan visual yang mencolok : antara sebagian besar kekayaan yang dinikmati segelintir warga dan deret kemiskinan di sekitarnya. Tata ruang kota kerap memperlihatkan lingkungan yang timpang ini. Parade permukiman mewah pada satu sisi. Pada sisi lain, rumah-rumah kardus atau tripleks berjejeran di sembarang tempat.

Arus urbanisasi yang melaju cepat ini, kita tak boleh menyalahkan sepenuhnya pada orang desa yang datang ke kota. Coba kita lihat lebih dekat, apa sebenarnya yang membuat mereka mencari pekerjaan di kota besar? Pemerataan pembangunan adalah salah satu sebabnya. Tidak meratanya pembangunan infrastruktur yang ada membuat orang mencari tempat hidup yang lebih baik. Fenomena urbanisasi membuat desa-desa kehabisan tenaga produktifnya yang berakibat pada lingkaran kemiskinan dan desa pun semakin jauh dari kemajuan. Namun masih saja ada pada arus balik pendatang yang berdatangan untuk mencari pekerjaan.

Kembali ke fenomena mudik. Arus urbanisasi sebenarnya salah satu penyebab terjadinya mudik. Jika pemerataan pembangunan yang dikelola oleh pemerintah bisa optimal hingga ke daerah-daerah dan desa-desa terpencil. Kemungkinan jumlah pemudik akan menurun dan stabil sehingga tidak akan menimbulkan kemacetan dan risiko kecelakaan dapat diantisipasi. Serta sektor ekonomi akan menunjukkan stabilitas yang cukup baik.

Kedua, fenomena manajemen transportasi yang semrawut serta kurang optimalnya infrastruktur transportasi yang ada. Baik di darat, laut, maupun udara. Ataupun masalah jalur mudik yang dilalui, jalanan macet, dan armada yang tak mencukupi. Jumlah pemudik dan armada yang ada cenderung tidak seimbang. Kenyamanan pemudik di perjalanan masih menjadi sesuatu yang mahal dan sulit dimiliki karena berbagai faktor, baik faktor internal maupun eksternal.

Faktor internal berkaitan dengan kondisi pemudik. Lihat saja, kenyamanan pemudik hanya dapat dirasakan bagi mereka yang berduit dan membeli tiket eksekutif, sedangkan orang-orang menengah ke bawah yang membeli tiket ekonomi kenyamanan mereka masih jauh dari harapan. Faktor internal yang lain ialah hasrat pemudik yang ingin cepat-cepat sampai tempat tujuan tanpa memperhatikan lagi keselamatan diri. Itulah sebabnya mengapa korban-korban kecelakaan terus berjatuhan dalam arus mudik dan balik.

Facebook Comments

Continue Reading

Banten

Musik Amal Session 3: Santunan 100 Anak Yatim

Published

on

Banten, Fakta99.com– Dalam mengisi semangat Ramadhan, Komunitas musisi Banten bekerjasama dengan sejumlah Media Banten menyelenggarakan kegiatan “Musik Amal Session 3 Marhaban Ya Ramadhan 2018”. Kegiatan ini digelar di kota serang-Banten Yang dimulai sejak tanggal 26 Mei 2018 hingga acara puncak, buka puasa bersama dan Santunan anak yatim tanggal 9 Juni 2018.

Menurut Mpi, Ketua pelaksana kegiatan, “acara ini bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi antar musisi Banten, dan mewujudkan rasa solidaritas sosial terhadap sesama dan puncak dari acara ini adalah berupa santunan Anak yatim piatu dan fakir miskin”.

Penyelenggaraan ini adalah rangkaian acara Tahunan di bulan Ramadhan, tepatnya memasuki tahun ke-3, yang dimulai sejak Tahun 2016.

“Alhamdulillah acara berjalan dengan lancar, semua donasi dan hasil penggalangan dana sudah tersalurkan kepada 100 anak yatim piatu” ujar Akbar Wakil Ketua Acara pelaksana.

“Untuk kedepannya, semoga acara lebih meriah dari tahun-tahun sebelumnya, dan lebih banyak lagi anak yatim yang dihadirkan.” Akbar menambahkan.

Facebook Comments

Continue Reading

Berita Daerah

Bercanda Bawa Bom, Penumpang Asal Ambon Diamankan Petugas

Published

on

By

Ilustrasi. (foto: gettyimages)

Jakarta, Fakta99.com – Petugas Aviation Security (Avsec) Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar, Sulawesi Selatan mengamankan salah seorang penumpang asal Ambon, Provinsi Maluku, SH (22) karena bergurau sedang membawa bom.

“Ini sudah keseringan terjadi, candaan membawa bom itu tidak tepat dilakukan apalagi di tempat-tempat seperti bandara, pelabuhan dan keramaian lainnya,” ujar Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Dicky Sondani di Makassar, Kamis (07/06/2018).

Berdasarkan informasi, penumpang yang menggunakan maskapai penerbangan Batik Air dengan nomor penerbangan ID 7703/ID6166 rute Jakarta-Makassar dan Ambon itu bergurau membawa bom saat sedang transit di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar, Sulsel.

Ia mengatakan, pelaku spontan mengatakan ‘bom’ saat pramugari membantu para penumpang untuk menyimpan tas di headtrack. Pramugari yang mendengar itu langsung mengkonfirmasi ulang kepada penumpang tersebut.

Setelah beberapa saat, pramugari itu melaporkan kepada co-pilot jika salah seorang penumpang sedang mengaku membawa bom dalam tasnya hingga akhirnya pilot tersebut berkoordinasi dengan pihak keamanan bandara.

“Spontan saja mengatakan bom, tapi berakibat fatal. Penumpang itu diturunkan dan kemudian dibawa ke posko Avsec untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut,” ujarnya.

Setelah beberapa jam dilakukan pemeriksaan, penumpang yang berprofesi sebagai pelaut itu kemudian diserahterimakan kepada Polsek Kawasan Bandara Internasional Sultan Hasanuddin untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Dikonfirmasi terpisah, Kapolsek Kawasan Bandara Iptu Ahmad mengatakan saat ini yang bersangkutan masih diamankan di Polsek untuk dimintai keterangan.

“Penumpang sekarang masih di Polsek dan berdasarkan keterangannya dia berangkat sendiri dan mengakui segala perbuatannya. Penumpang itu mengaku hanya bercanda dan spontan saja mengeluarkan kata bom itu,” ucapnya. (*)

Facebook Comments

Continue Reading

Iklan

Trending