Connect with us

Berita Daerah

Fenomena Mudik Lebaran

Published

on

Fakta99.com – Pada awalnya “Mudik” merupakan istilah yang digunakan oleh orang-orang Jawa, yang kemudian menjadi populer ditelinga masyarakat Indonesia. Istilah ini berasal dari kata “udik” yang berarti arah hulu sungai, pegunungan, atau kampung/desa. Orang yang pulang ke kampung disebut “me-udik”, yang kemudian dipersingkat menjadi mudik.

Kata udik juga kerap dikonotasikan dengan bebal, bodoh, bego, kampungan dan beberapa kata negatif sejenisnya. Namun dalam pengertiannya yang lebih tepat, udik yang mengandung makna bagian atas sungai, yang jernih, bersih, yang kita gunakan dalam konteks ini. Kata “mudik” juga punya arti naik yang dapat dimaknai secara spiritual, yakni upaya menaikkan spiritualitas kita agar lebih tinggi lagi setelah sekian waktu berada dalam kehidupan metropolitan dan kehilangan spiritualitas, karena dipenuhi persaingan dan pola hidup materialistik. Secara psikologis, mudik memberi sumber kekuatan mental baru.

Mudik. Kira-kira apa yang terbayang dalam benak kita begitu mendengar kata ‘mudik’? Mungkin seperti hiruk-pikuk kendaraan dan armada angkutan yang dipenuhi lautan manusia yang berbondong-bondong kembali ke kampung halaman masing-masing serta berbagai peristiwa yang berkaitan dengan mudik.

Fenomena mudik selalu terjadi setiap tahun menjelang Idul Fitri. Hal itu juga terjadi di Cina, menjelang Imlek. Keadaan serupa terjadi negara Barat, saat merayakan Thanksgiving, atau mendekati Natal dan Tahun Baru. Mobilitas penduduk, pada saat-saat itu seperti meningkat pesat. Di Indonesia, terjadi arus luar biasa setiap tahun menjelang Idul Fitri, khususnya dari Jakarta ke seantero Indonesia. Inilah sebuah fenomena yang terjadi setiap tahun, yang selalu luput dari penyelesaian. Jadinya, mudik memang merupakan kebahagiaan sekaligus derita fisik bagi yang menjalankannya.

Mengapa orang ingin mudik? Bisa jadi untuk melepaskan kerinduan pada kampung halaman dan bisa juga untuk menikmati liburan Idul Fitri bersama keluarga, karena hanya Idulfitri kita menikmati libur cukup panjang yang diperhitungkan sebagai cuti bersama. Ditambah dengan cuti pribadi yang digabungkan, kita punya waktu libur kira-kira satu atau dua minggu.

Mudik juga bisa menjadi semacam terapi yang menguatkan hubungan kekeluargaan. Dalam aspek psikologis, mudik akan membangkitkan kesegaran dan tenaga baru bila mereka kembali bekerja di kota. Oleh karena itu mudik Lebaran, selain menjadi tradisi tahunan, juga memiliki efek perbaikan hidup atau terapi untuk rasa kehilangan bagi mereka yang hidup jauh dari orang tua dan keluarga.

Sebaliknya, fenomena mudik sering dijadikan sebagai media untuk menunjukkan sukses di kota. Status sosial yang diperoleh perlu diketahui oleh sanak-keluarga. Maka mereka pun ikut mudik dengan kendaraan sendiri. Anehnya, ternyata tarikan sosiologis serupa sangat kuat, sebab tidak sedikit orang kota yang mudik sambil bersandiwara. Mereka datang dengan mobil pribadi, walau harus menyewa dari rental.

Pada umumnya orang Indonesia rutin pulang ke kampung halaman menjelang Idul Fitri atau Lebaran. Tak peduli besarnya kesulitan yang dihadapi untuk itu. Mereka rela antri berjam-jam untuk mendapatkan tiket bus atau kereta, atau bahkan menyewa mobil. Berdesak-desakkan di dalam angkutan umum, berpanas-panasan di atas sepeda motor dan macet berjam-jam di jalanan merupakan kejadian yang selalu terjadi di setiap Lebaran. Bagi mereka, kerepotan, penderitaan dan kesulitan yang dihadapi selama dalam perjalanan pulang kampung tidak dianggap ada setelah mereka bertemu dengan anggota keluarganya.

Seluruh jerih payah itu satu per satu dijalani demi terealisasinya satu kata, “pulang”. Ribuan orang desa berbondong-bondong pulang kampung dari kota Metropolitan menuju kampung halaman atau desa dimana mereka berasal. Otomatis, Jakarta sunyi dan senyap dalam rutinitas kota untuk beberapa hari menjelang Lebaran. Tak bisa dipungkiri, mudik merupakan tradisi rumit yang membutuhkan persiapan fisik mental dan tidak lupa tetap memegang azas keamanan dan keselamatan dalam perjalanan.
Mudik telah menjadi budaya yang mendarah daging pada bangsa ini. Ada Lebaran, ada mudik. Barangkali itulah yang terjadi saban tahun di Negri kita, Indonesia.

Di balik tradisi mudik yang dianggap sebagai kearifan budaya bangsa Indonesia, terkuak pula tabir ketimpangan social yang luar biasa. Ritus kembali ke kampung halaman ini seringkali memunculkan fenomena yang bertentangan dengan akal sehat.

Kita selalu melihat setiap tahun bagaimana sebagian orang yang telah menjalani puasa Ramadhan selama sebulan justru sudah tak peduli lagi dengan orang lain dan mementingkan ego sendiri, saling sikut, saling berebut kesempatan saat masuk kendaraan umum, bahkan tak jarang menimbulkan penyimpangan sosial.

Di sisi lain, kegairahan mereka yang merayakan hari kemenangan pertempuran rohani lewat ibadah shaum sebulan penuh, dimanfaatkan dengan begitu baik oleh kalangan pebisnis untuk merangsang pola konsumtif yang meledak-ledak. Suasana Lebaran tampaknya selalu menjadi ajang di mana orang merasa harus meningkatkan arus belanjanya secara berlipat.

Mudik benar-benar menjadi dilema, dimana hasrat pemudik begitu menggebu-gebu ingin sampai kampung halaman bertemu sanak keluarga. Namun justru ritus inilah yang seringkali membuat kemacetan, kriminalitas, dan kecelakaan lalu lintas meningkat dimana-mana. Belum lagi, instabilitas ekonomi yang tercipta akibat ulah pengusaha yang mencari untung dari tradisi tahunan ini. Sayangnya, sebagian besar orang masih memandang tradisi mudik ini positif, dan membiarkan segala kerumitannya menjadi hal yang biasa. Padahal, jika dianalisis, tradisi ini justru secara gamblang menelanjangi berbagai masalah dan ketimpangan sosial di negeri ini. Fenomena-fenomena yang terjadi diantaranya:

Pertama, arus urbanisasi, fenomena lengangnya kota-kota besar dan ramainya desa-desa. Ini menunjukkan, beban berat kota besar di Indonesia khususnya Jakarta sebagai pusat ibu kota, selama ini disebabkan oleh menumpuknya jutaan manusia di sana. Mengapa tradisi mudik lebaran menjadi sangat fenomenal di negeri ini? Ini terkait dengan politik pembangunan. Mudik terjadi karena terpusatnya kegiatan kehidupan di kota dan melemahnya fungsi kehidupan di desa. Fungsi-fungsi kota di daerah tidak diberdayakan secara optimal sehingga orang memilih memburu kehidupan dan mencari pekerjaan di kota-kota besar. Padahal kota besar seperti Jakarta belum tentu menjanjikan dan tak seindah yang mereka bayangkan. Betapa kehidupan metropolitan sangat keras dan kejam bagi mereka yang tak memiliki keahlian dan keterampilan.
Kesuksesan merupakan bayang-bayang mudik yang paling pekat.

Arus urbanisasi ini meningkatkan angka kemiskinan yang signifikan. Bisa terlihat, dari tahun ke tahun, Jakarta dipenuhi sesak oleh pendatang baru yang berdatangan mengadu nasib untuk meraih kehidupan yang lebih baik. Kenyataannya, justru sebaliknya mereka kebanyakan terlunta-lunta di jalanan menjadi tunawisma dan pengemis.

Arus urbanisasi musiman ini terjadi karena masih mengakarnya paradigma pembangunanisme (developmentalism) yang sentralistik. Suatu paradigma yang memaksa banyak orang desa hijrah ke Jakarta, Bandung, Surabaya, dan kota-kota besar lainnya setiap tahun. Hal ini kemudian membawa konsekuensi berupa kesenjangan visual yang mencolok : antara sebagian besar kekayaan yang dinikmati segelintir warga dan deret kemiskinan di sekitarnya. Tata ruang kota kerap memperlihatkan lingkungan yang timpang ini. Parade permukiman mewah pada satu sisi. Pada sisi lain, rumah-rumah kardus atau tripleks berjejeran di sembarang tempat.

Arus urbanisasi yang melaju cepat ini, kita tak boleh menyalahkan sepenuhnya pada orang desa yang datang ke kota. Coba kita lihat lebih dekat, apa sebenarnya yang membuat mereka mencari pekerjaan di kota besar? Pemerataan pembangunan adalah salah satu sebabnya. Tidak meratanya pembangunan infrastruktur yang ada membuat orang mencari tempat hidup yang lebih baik. Fenomena urbanisasi membuat desa-desa kehabisan tenaga produktifnya yang berakibat pada lingkaran kemiskinan dan desa pun semakin jauh dari kemajuan. Namun masih saja ada pada arus balik pendatang yang berdatangan untuk mencari pekerjaan.

Kembali ke fenomena mudik. Arus urbanisasi sebenarnya salah satu penyebab terjadinya mudik. Jika pemerataan pembangunan yang dikelola oleh pemerintah bisa optimal hingga ke daerah-daerah dan desa-desa terpencil. Kemungkinan jumlah pemudik akan menurun dan stabil sehingga tidak akan menimbulkan kemacetan dan risiko kecelakaan dapat diantisipasi. Serta sektor ekonomi akan menunjukkan stabilitas yang cukup baik.

Kedua, fenomena manajemen transportasi yang semrawut serta kurang optimalnya infrastruktur transportasi yang ada. Baik di darat, laut, maupun udara. Ataupun masalah jalur mudik yang dilalui, jalanan macet, dan armada yang tak mencukupi. Jumlah pemudik dan armada yang ada cenderung tidak seimbang. Kenyamanan pemudik di perjalanan masih menjadi sesuatu yang mahal dan sulit dimiliki karena berbagai faktor, baik faktor internal maupun eksternal.

Faktor internal berkaitan dengan kondisi pemudik. Lihat saja, kenyamanan pemudik hanya dapat dirasakan bagi mereka yang berduit dan membeli tiket eksekutif, sedangkan orang-orang menengah ke bawah yang membeli tiket ekonomi kenyamanan mereka masih jauh dari harapan. Faktor internal yang lain ialah hasrat pemudik yang ingin cepat-cepat sampai tempat tujuan tanpa memperhatikan lagi keselamatan diri. Itulah sebabnya mengapa korban-korban kecelakaan terus berjatuhan dalam arus mudik dan balik.

Facebook Comments

Berita Daerah

DKR Pramuka Baros Kupulkan 10 Juta Bantuan Korban Palu

Published

on

Dewan Kerja Ranting Pramuka baros gelar dan Puluhan angota Pramuka turun ke jalan melakukan aksi penggalangan dana untuk korban gempa dan Tsunami di Palu, Donggala, dan Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah.

Aksi penggalangan dana ini dilakukan selama dua hari dengan cara berkeliling dari rumah warga satu ke warga lainnya di sekita kecamatan baros kabupaten serang.

Misi kemanusiaan ini dipimpin langsung oleh Kang Rijal selaku ketua dewan kerja ranting baros.

Menurut kang Rijal , aksi penggalangan dana ini dilakukan merupakan bukti kepedulian para anak-anak Pramuka terhadap para korban bencana alam di Sulawesi Tengah

“Mudah-mudahan dengan adanya kegiatan ini bisa meringankan para korban di Palu, Donggala, dan Sigi,” tutur Rijal melalui sambungan via Whatsapp pada Fakta99.com, (08/10/2018).

Rijal menambahkan dana yang terhimpun oleh dewan lerja ranting Pramuka baros terkumpul sekitar 10 Juta Rupiah. Dana tersebut akan dikirim secara kolektif dengan bantuan dari organisasi lain melalui lembaga resmi yang dikelola pemerintah. tungkasnya.

Facebook Comments

Continue Reading

Berita Daerah

Bahaya Penyakit Hepatitis DPR RI & Kementrian Kesehatan Sosialisasikan Pola Hidup Sehat

Published

on

Fakta99.com -Penyakit hepatitis adalah satu dari sekian banyak ancaman kesehatan utama di dunia. Kebanyakan orang yang terinfeksi hepatitis tidak yakin bagaimana mereka bisa mendapat penyakit ini. Ditambah lagi, tidak semua orang terinfeksi penyakit hepatitis akan memiliki gejala. Biasanya mereka menyadari kondisinya di kemudian hari saat penyakit ini telah jauh berkembang.

Untuk pencegahan bahanya penyakit Hepatitis Komisi sembilan (9) DPR RI dan Kementrian Kesehatan RI gelar diskusi publik Gerakan Hidup Sehat (GERMAS) Cafe Dwiza, 13 september 2018 Cipocok Serang Banten.

Yayat Biyaro Anggota DPR RI Komisi 9 mengatakan, Kegiatan ini bertujuan agar masyarakat peka terhadap kesehatan dan menjalankan pola hidup sehat. Lahirnya sebuah penyakit datang disebabkan dari pola hidup yang tidak sehat. katanya saat menjelaskan dalam kegiatan sosialisasi tersebut.

Penempatan norma-norma dalam kehidupan seperti Norma Agama ini sangat perlu diterapkan dalam kehidupan sebab dalam hal ini sangat penting. Masyarakat akan menghindari hal-hal prilaku negatif jika ia paham dan mendalami agama. Imbuhnya.

Kasubdit Hepatitis dan ISP Kemenkes RI Dr. Sedya Dwisangka mengatakan, Hepatitis ada dua jenis yang pertama Hepatitis bisa berupa hepatitis virus (infeksi virus) atau hepatitis non-virus (hepatitis alkoholik dan hepatitis autoimun). Katanya saat menjelaskan dalam kegiatan sosialisasi tersebut.

Hepatitis virus, Jenis hepatitis ini disebabkan oleh virus yang masuk ke dalam tubuh. Infeksi dapat terjadi melalui penggunaan jarum yang terkontaminasi virus (seperti melalui suntikan narkoba, tato, tindik tubuh, suntikan obat, atau jarum transfusi), tinggal bersama atau melakukan hubungan seks dengan seseorang yang terinfeksi hepatitis, atau menjadi petugas kesehatan yang bekerja dengan pasien hepatitis juga bisa berakibat pada infeksi hepatitis. Ada juga risiko infeksi virus hepatitis jika Anda mengonsumsi sumber air atau makanan yang tidak aman. Maka kita mesti berhati-hati dalam pencegahannya imbuhnya.

Yang kedua Hepatitis non-virus (hepatitis alkoholik dan hepatitis autoimun) ini dapat melemahkan kerja hati sehingga membuat Anda lebih rentan terhadap infeksi hepatitis. Bahkan, bagi yangbsering konsumsi alkohol bisa lebih mudah banyak terkena penyakit hati seperti perlemakan hati alkoholik (terlalu banyak penumpukan lemak di hati) atau sirosis (kerusakan hati).

Hepatitis autoimun terjadi saat sistem kekebalan tubuh menyerang hati. Ini normalnya tidak terjadi, tetapi bisa menyebabkan penurunan fungsi hati dan menyebabkan kerusakan hati. Ada dua jenis hepatitis autoimun, dengan hepatitis autoimun tipe 1 lebih umum dibandingkan hepatitis autoimun tipe 2. Penderita hepatitis autoimun juga bisa memiliki gangguan autoimun lainnya, seperti penyakit Celiac, rheumatoid arthritis atau kolitis ulseratif. Tungkasnya

Dalam kegiatan ini dihadiri tokoh masyarakat Kota Serang H. Ubaidillah Kabier sebagai narasumber ratusan masyarakat se-kota serang.

Facebook Comments

Continue Reading

Berita Daerah

Antar Sodara Nikahan, Warga Asal Bayah Hilang Sekejap di Kota Cirebon

Published

on

Fakta99.com – Lebak – Adroni (65) warga asal Kampung Suwakan Desa Suwakan Kecamatan Bayah Kabupaten Lebak Provinsi Banten Dikabrakan hilang sekejap di Kota Cirebon. Kabar itu diceritakan Supadni yang merupakan anak dari pria paruh baya yang hilang itu.

Menurut Supadni, bapaknya hilang tepatnya di Jalan Surapandan RT/RW 07/04 Kelurahan Argasunya Kecamatan Harjamukti Kota Cirebon Povinsi Jawa Barat pada Minggu (26/8/2018).

Kronologis hilangnya Adroni (65) dijelaskan Supadni saat tengah ikut mengantarkan sodara dikampungnya menikah dengan orang Cirebon dan saat itu pula bapaknya hilang sekejap tanpa ada yang mengetahui.

“Bapak itu hilang sekejap tanpa daksa di acara hajatan (nikahan) gitu. Untuk sekarang warga dan polisi setempat sedang menyelidiki hilangnya bapak saya, soalnya sampe 3 hari 3 malam tapi masih belum ditemukan” jelas Supadni yang merupakan anaknya. Selasa (28/8/2018).

Hilangnya, lanjut kata Supadni, pas kumpul di depan rumah. “Pokonya sebelum hilang juga kata-kata bapak saya ngelantur, sedangkan bapak saya itu sehat dan normal pikirannya” tuturnya.

Supandi juga mengaku ada keanehan pada sosok bapaknya sebalum hilang. “Soalnya ada kejanggalan dari ucapan bapak saya sebelum hilang, pas datang ke Kota Cirebon bapak saya ko bisa tau tentang lokasi tempat disana. Sedangkaan bapak saya belum pernah kesana sama sekali, itu yang bikin aneh” ungkapnya.

Saat ini tambah Supandi, keluarga dan pihak kepolisian sedang mencari bapak saya yang hilang. “Keluarga masih disana karena sampai saat ini belum ditemukan, kami (keluarga) juga mempercayakan seutuhnya kepada Kepolisian Kota Cirebon” tambahnya.

Ia juga berharap, semoga warga yang menemukan bapaknya segara melapor ke no kontaknya yakini bisa menghubungi pihak keluarga di No (0857-1867-1222), “saya mohon dibantu ya” harapnya.

Facebook Comments

Continue Reading

Iklan

Trending