Connect with us

Ragam Berita

Argumen Kesatuan Tauhid dan Sains

Published

on

Fakta99.com – Semangat keislaman kian merebak di beberapa perguruan tinggi “umum”, terutama sejak tahun 1980: Revolusi Islam Iran terjadi, disambut di mana-mana, lalu dianggap sebagai penantang tesis sekularisasi yang telah mapan diyakini para sarjana ilmu sosial. Dari sana tumbuh kesadaran akan pentingnya menyatukan ajaran Islam dengan semua ranah kehidupan, terutama dalam urusan politik. Aktivisme Islam sejak saat itu, hingga sekarang dengan pelbagai ragam gerakan dan bentuk perjuangan, terus tertuju ke ranah politik. Perubahan struktur kesempatan politik di Indonesia, dari Orde Baru ke Reformasi, kian membuat perjuangan tersebut menjadi leluasa. Tetapi kemudian muncul persoalan asasi yang lebih mendesak untuk dijawab, yakni perihal hubungan Islam dan sains, mengingat eksponen aktivisme tersebut banyak yang justru berlatar pendidikan sains alam.

Penjelasan atas persoalan di atas telah diberikan oleh beberapa pemikir Islam modern, dari Muhammad Abduh, Muhammad Iqbal, Fazlur Rahman, dan Syed Muhammad Naquib Al-Attas. Pada nama terakhir, kita bahkan mengenal istilah lugas “Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer”. Naquib Al-Attas menjadikan pemikiran yang terbentang dalam tradisi Islam sebagai landasan filosofis dan metodologis pemikirannya tentang Islamisasi. Buku ini adalah salah satu syarah penting dari gagasan itu. Hamid Fahmy Zarkasyi, yang berguru langsung kepada Naquib Al-Attas di Malaysia, mengajukan landasan filosofis Islamisasi ilmu dengan mengelaborasi pemikiran sosok agung dalam peradaban Islam, Sang Argumen Islam (Hujjatul Islam) Abu Hamid Al-Ghazali.

Kausalitas, Realitas, dan Pengetahuan

Sains terpenuhi maknanya jika kausalitas (hubungan sebab-akibat) setiap peristiwa diterima. Dari sana, para saintis berusaha menemukan pola di dalam setiap penelitian mereka, lalu pola tersebut dirumuskan dan diujikan universalitasnya. Jika tetap tangguh setiap kali diuji, ia akan menjadi teori. Tetapi bagi orang beriman, penjelasan itu menyisakan pertanyaan tentang peran Tuhan dalam setiap peristiwa. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, diperlukan analisis yang menyeluruh terhadap konsepsi tentang Tuhan itu sendiri, karena konsepsi tentang Tuhan membawa konsekuensi konseptual dalam kausalitas fenomena alam (hlm. 9). Imam Al-Ghazali, dengan mengacu kepada pemikiran Kalam dalam tradisi Ahlussunah wal Jama’ah, meyakini bahwa Tuhan adalah pelaku yang selalu berkehendak dan mengetahui atas apa yang Dia kehendaki. Dari premis ini, Al-Ghazali mengembangkan konsepnya tentang kausalitas.

Menurut Al-Ghazali, hakikat kausalitas adalah kehendak Tuhan atas sesuatu, yang terjadi di dunia jasmani yang fana dan di dunia ruhani yang kekal, sesuai dengan qada, qadar, dan hukum-Nya (hlm. 246). Meski demikian, kehendak Tuhan berbeda dengan kehendak manusia. Kehendak Tuhan berkaitan dengan kekuasaan dan pengetahuan-Nya, sedangkan kehendak manusia amat dibatasi oleh keterbatasan kekuasaan dan pengetahuan. Lantas apakah dengan begitu, Tuhan dapat berlaku sewenang-wenang atas setiap kejadian alam? Al-Ghazali percaya bahwa Tuhan merancang segala perbuatan dan hasilnya dengan baik dan tidak akan melakukan hal yang mustahil. Manusia tetap bisa memahami kausalitas sebagai kebiasaan (‘adah) yang meninggalkan kesan dalam pikirannya, karena itu hasil pengulangan peristiwa berkali-kali (hlm. 252). Dari sini, sains akan berkembang tanpa sedikit pun kehilangan kesadaran ilahiah di benak kaum saintis.

Penulis mengelaborasi lebih lanjut konsep kausalitas Al-Ghazali dengan menelusuri pemikirannya tentang realitas dan pengetahuan. Ini adalah temuan penting mengingat pengkaji Al-Ghazali sebelumnya, seperti Majid Fakhry, Carol Lucille Bargeron, dan William J. Courtneway (hlm. 20-25), masih membatasi konsep kausalitas Al-Ghazali dalam konteks perdebatannya dengan para filsuf dan usahanya menunjukkan rasionalitas peristiwa mukjizat kenabian. Dengan menjabarkan pemikiran kausalitas, realitas, dan pengetahuan Al-Ghazali, Penulis berhasil menunjukkan konsistensi dan koherensi pemikiran ulama agung yang wafat di tahun 1111 M itu. Menurut Al-Ghazali, realitas mutlak adalah Tuhan, sedangkan semua yang selain Tuhan, yakni makhluk, memiliki realitas fana yang senantiasa bergantung kepada-Nya. Beliau kemudian menjabarkan lebih rinci tingkatan-tingkatan wujud, dari lauh mahfuz sampai realitas material dan mental. Pandangan ini adalah hasil intensifikasi beliau dalam membahasakan pengalaman sufistiknya ke dalam bahasa rasional, tetapi tanpa menyelisihi penjelasan tentang realitas di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.Penciptaan Tuhan atas setiap makhluk-Nya, mengikuti tingkatan wujud di atas, berlangsung terus-menerus dengan titah Tuhan “Kun” (“Jadi!”). Ulama Kalam sebelum Al-Ghazali, dari kalangan Asya’irah dan Mu’tazilah, menggunakan teori atom untuk menjelaskan hal ini. Mereka berpendapat bahwa ontologi makhluk adalah susunan unsur-unsur tak-terbagi (átomos) yang tercipta dan musnah sebelum dua unit waktu, kemudian Tuhan menciptakan-kembali yang serupa dengan itu secara berulang-ulang. Oleh Al-Ghazali pemikiran ini diperkuat, baik secara filosofis maupun secara sufistik, untuk menunjukkan temporalitas penciptaan makhluk, keteraturan (kosmologi) di dalamnya, dan prinsip identitas dan perbuatan manusia (hlm. 159-166).Terkait dengan perbuatan manusia, menurut penulis, Al-Ghazali menjelaskan bahwa perbuatan tersebut juga diciptakan oleh Tuhan. Namun berbeda dari pandangan ekstrim yang meyakini hal ini tanpa metodologi dan perincian, seperti kalangan Jabbariyah yang fatalis, Al-Ghazali meyakini bahwa akal manusia memiliki kesadaran atas tindakannya. Manusia dapat berusaha memilih untuk melakukan yang terbaik (ikhtiyar) berdasarkan pengetahuan yang diperoleh akalnya, terutama berdasarkan tuntunan syariat. Karena itu, semua pelanggaran syariat yang dilakukan secara sadar setelah pengetahuan tentangnya sampai kepada manusia, akan berkonsekuensi pada dosa.Pengetahuan tentang tingkatan wujud, penciptaan makhluk, dan ilmu-ilmu lain dapat diperoleh manusia melalui dua cara, yakni pengajaran manusia dan pengajaran Ilahi (hlm. 195). Pada yang terakhir, Al-Ghazali menekankan pada subyek Nabi dalam bentuk wahyu, dan para sufi dalam bentuk ilham. Pengetahuan jenis ini menjadi pendasaran bagi penjelasan pengetahuan jenis pertama, yakni ilmu-ilmu demonstratif yang bisa diajarkan oleh manusia kepada manusia lain setelah melalui proses psikologis dan logis. Dengan mendasarkannya kepada wahyu, pengetahuan mengantarkan manusia untuk memperoleh kepastian sekaligus menghilangkan keraguan, sebab kepastian pengetahuan rasional atau kepastian filosofis tidak ada nilainya jika tidak disertai dengan penyerahan diri pada kebenaran yang diperoleh dari pengetahuan realitas ilahi (hlm. 217). Penulis membuktikan bahwa pemikiran Al-Ghazali ini adalah sebuah rumusan yang baik tentang worldview Islam, atau pandangan Islam terhadap wujud, yang berdampak kepada pengembangan epistemologi Islam.

Kebutuhan Sekarang

Apa signifikansi penerbitan buku yang diterjemahkan dari disertasi penulisnya di tahun 2006, dan telah terbit terlebih dahulu di Malaysia dalam bahasa Inggris di tahun 2010, ini bagi kebutuhan dunia keilmuan sekarang? Saya mencatat sekurang-kurangnya tiga hal terpenting untuk menjawab itu.

Pertama, penulis berhasil menunjukkan kekuatan pemikiran salah satu sosok penting dalam landasan islamisasi sains. Seperti dijabarkan di sepanjang buku ini, Al-Ghazali membuktikan kesatuan tauhid dan sains sedemikian sehingga di satu sisi, manusia tak perlu khawatir kehilangan imannya ketika berhadapan dengan kegiatan dan temuan saintifik, dan di sisi lain akan mengawal perkembangan sains berdasarkan epistemologi Islam. Pemikiran ini penting untuk diterima, bahkan menurut saya sudah mendesak, karena respons umat Islam sekarang terhadap sains justru menunjukkan kegamangan: ada yang menolak mentah-mentah fakta sains, dan sebagiannya justru mencurigai fakta-fakta itu sebagai konspirasi keji kekuatan tertentu untuk menyerang umat Islam; ada yang menerima secara utuh fakta, simpulan, dan interpretasi sains sekular terhadap realitas; dan ada pula yang mencocokkan temuan-temuan sains dengan ayat Al-Qur’an tanpa metodologi yang benar, sehingga malah menghasilkan tafsir-tafsir yang aneh.

Kedua, buku ini menjadi jawaban atas tuntutan penyediaan buku rujukan bagi filsafat sains, epistemologi Islam, dan relevansi tradisi pemikiran Islam. Meski buku ini bisa dinilai sebagai buku yang “berat”, namun hanya dengan penjelasan seperti ini saja filsafat sains dan epistemologi Islam dapat disampaikan dengan benar, tanpa kehilangan substansi. Apalagi tuntutan tersebut rata-rata muncul dari kalangan muslim terdidik yang sudah mengenyam pelbagai teori dan metodologi sains di ruang-ruang akademik. Beberapa kampus juga sudah memasukkan mata kuliah filsafat ilmu sebagai mata kuliah wajib. Jika tak merujuk pada penjelasan filsafat ilmu/sains yang sesuai dengan Islam, kita akan mengalami kegamangan. Kita juga akan diajak untuk mengenali keunggulan pemikiran para ulama terdahulu, yang berjiwa besar dan yang sudah mewariskan pemikiran besar bukan cuma untuk zamannya, tetapi juga untuk zaman sesudahnya. Seperti yang sudah disinggung di awal, kausalitas adalah axioma bagi pengembangan sains, sejauh dan serumit apapun perkembangan sains sekarang.

Ketiga, penulis berhasil memperbaiki beberapa kesalahpahaman (atau penyalahpahaman?) atas sosok Al-Ghazali oleh beberapa pengkajinya. Bab 5 buku ini secara khusus (hlm. 277-321) menguraikan dan meluruskan kesalahpahaman sosok penting lain dalam pemikiran Islam, Ibn Rusyd, terhadap konsep kausalitas Al-Ghazali. Di masa modern, penulis mencatat juga beberapa orientalis yang menuduh bahwa Al-Ghazali adalah musabab kemunduran peradaban Islam, gara-gara mengira bahwa kausalitasnya ini sebagai bentuk penolakan mutlak terhadap sains. Di sisi lain, terdapat orientalis yang mengelirukan konsep-konsep lain di seputar pemikiran ini, seperti mereka yang mengatakan bahwa Kalam terpengaruh oleh doktrin teologi Kristen, tasawuf sebagai penyerapan-langsung umat Islam terhadap ajaran Hindu dan Neoplatonisme, dan konsep atom sebagai konsep pinjaman dari filsafat Yunani. Penulis menunjukkan bahwa semua itu adalah kekeliruan orientalis dalam memahami asal-muasal kelahiran ilmu dalam Islam, yang pada hakikatnya muncul justru dari dalam konteks kemampuan kreatif umat Islam dalam menjawab persoalan-persoalan ilmiah baru dengan berpedoman pada worldview Islam itu sendiri.

Dari tiga hal terpenting di atas, saya menyarankan buku ini dibaca secara sungguh-sungguh oleh para peminat kajian pemikiran Islam, filsafat Islam, filsafat sains pada umunya, dan saintis itu sendiri. Kekurangan di beberapa bagian buku terkait penyuntingan tak menjadikan buku ini kehilangan sedikit pun substansi gagasan dan relevansinya. Jika ada seperlima saja aktivis Islam yang berlatar belakang pendidikan sains mau secara serius mempelajari, mendiskusikan, dan mengembangkan argumen di dalam buku ini, dengan sedikit meninggalkan aktivisme politik yang sedang memasuki “tahun-tahun penentuan” Pilkada dan Pilpres, saya yakin wajah perkembangan sains di Indonesia beberapa dekade ke depan akan berubah menjadi lebih islami.

Ismail Al-‘Alam

Staf INSISTS, pengkaji Filsafat.

Facebook Comments

Nasional

Kemana? Terpidana Korupsi Wawan dan Fuad Amin, Tak Ada di Sel Lapas Sukamiskin

Published

on

Fakta99.com – Kemana? Terpidana kasus korupsi Fuad Amin dan Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan tidak ada di sel ketika Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) operasi tangkap tangan (OTT) Kalapas Sukamiskin Wahid Husein.

Sekretaris Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (SesditjenPAS) Liberti Sitinjak mengatakan, Sabtu sore kemarin Wawan sudah kembali ke Lapas Sukamiskin, sedangkan Fuad Amin masih dirawat di rumah sakit.

“Ada dua warga binaan permasyarakatan yang tidak di tempat, Wawan dan Fuad Amin. Pendalaman sampai (Sabtu) pukul 16.30 WIB, Wawan sudah kembali ke lapas dari rumah sakit sedangkan Fuad Amin masih di dalam status rawat inap di rumah sakit,” ujar Liberti di Jakarta, Sabtu (22/o7/18) malam. Dikutip fakta99.com dari Antara.

Terkait kejadian tersebut, dia mengatakan pihaknya akan lebih mendalami hal-hal terkait perizinan berobat ke luar. Kemenkum HAM juga akan memperinci lagi terkait kemungkinan narapidana sering keluar lapas untuk pelesir.

“Dari rumah sakit, seperti Fuad Amin sudah kami dapatkan data bahwa yang bersangkutan memang rawat inap dan kami sudah punya data. Sedangkan yang lain kami masih akan tunggu data untuk lebih dapat didalami,” ujar dia.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Pemasyarakatan (DirjenPAS) Kemenkum HAM, Sri Puguh Budi Utami juga mengatakan dua narapidana korupsi yang tidak di dalam lapas saat OTT menjalani perawatan di rumah sakit.

“Fuad memang dirawat di Rumah Sakit Borromeus, masih ada di sana. Kalau Wawan sudah kembali ke Lapas Sukamiskin,” ujar dia.

Facebook Comments

Continue Reading

Ragam Berita

Berbagi Lewat Sosmed

Published

on

Fakta99.com – Zhang Xin, wanita cantik yang ekonom dan pengusaha sukses. Tapi sebagian besar anak muda China mengenalnya bukan karena dia pengusaha sukses tapi karena kerendahan hatinya yang setiap hari melalui sosmed ( QQ) memberi inspirasi kepada jutaan anak muda china untuk berani melewati hidup sebagai wiraswasta. Tanpa terkesan menggurui dia memperlihatkan masa depan sebagai pengusaha, dan jalan yang harus ditempuh. Zhang Xin tidak sendiri ada banyak pengusaha China yang tampil di Medsos menjadi mentor banyak orang untuk mencerahkan setiap kebijakan pemerintah. Mereka tidak memuji pemerintah tapi mereka meyakinkan semua orang bahwa pemerintah berniat baik dan jalan untuk hari esok yang lebih baik sedang ditapaki, maka kerja keras dan rasa kebersamaan adalah mutlak.

Seorang teman yang juga pengusaha IT mengatakan kepada saya bahwa medsos di china digunakan oleh banyak pengusaha untuk lebih dekat kepada masyarakat. IT yang melahirkan media sosial menjadi trend baru untuk berbagi pengetahuan dan semangat. Ketika teknologi komunikasi hadir didalam genggaman anda, dan dunia menjadi begitu kecilnya, saya rasa anda terlalu angkuh kalau anda tidak punya waktu untuk menjangkau semua orang. Kadang orang tidak butuh uang anda tapi dengan semangat anda, pengetahuan anda, orang lain terinspirasi dan punya power untuk bergerak menyelesaikan masalahnya sendiri, demikian kata teman saya.

Kewirausahaan di Cina adalah sesuatu yang berbeda dengan yang ada di dunia Barat atau di negeri kita. Semangat wirausaha lahir dari kampus terbaik dengan mahasiswa terbaik.Mereka sadar sebagai elite terbaik china yang harus memberikan sumbangan berarti kepada negara dan bukan menjadi beban negara. Mereka hadir mengisi kekosongan produksi dari sistem negara komunis. Lip-Bu Tan, West Coast Venture Capital terkemuka, mengatakan ciri-ciri utama pengusaha di China adalah “kerendahan hati, kesabaran, kemauan untuk belajar, dan komitmen total untuk bisnis.” Hal ini berbeda jauh dengan gaya pengusaha Barat ( mungkin sebagian pengusaha indonesia ) yang doyan dipuja lewat publikasi , eksklusif dan arogan, bahkan IT yang melahirkan komunikasi tanpa batas tetap membuat mereka berjarak secara batin dengan masyarakat. Medsos berupa Tweet, atau FB diserahkan kepada asistennya.

Di China seminar Bisnis dan motivasi sudah jarang sekali dilakukan karena semua dilakukan lewat medsos. Semua walikota punya akun QQ dan lewat medsos mereka menggunakan waktu sarapan paginya atau istirahat siangnya untuk berinteraksi dengan publik, ya seperti yang dilakukan oleh Kang Emil di Bandung. Pengusaha dan pejabat adalah elite bangsa dan tidak ada alasan mereka berjarak dengan rakyat ketika IT menyediakan media sosial untuk berbagi, kecuali rasa empati sudah mati didalam hati…

Facebook Comments

Continue Reading

Ragam Berita

6 Quotes Inspiratif Helen Keller, Bukti Kekurangan Bukanlah Halangan

Published

on

Fakta99.com – Hellen Keller, tentu kalian mengenal sosok perempuan satu ini. Salah satu penulis dan tokoh kemanusiaan terbesar abad ke-20. Hellen Kelller adalah sosok yang mendobrak batasan dirinya dan pandangan negatif orang lain.

Di balik kekurangan dirinya yang buta dan tuli, ia berhasil mengatakan kepada dunia bahwa semua manusia yang terlahir memiliki kelebihan masing-masing. Karyanya yang cukup terkenal adalah autobiografinya berjudul Story of My Lifeyang diterbitkan pada tahun 1903.

Tentu banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari seorang Hellen Keller. Di bawah ini ada beberapa quotes inspiratif yang membuktikan bahwa kekurangan bukanlah halangan untuk berbuat kebaikan dan berkarya.

1. Hal-hal terbaik dan terindah di dunia tidak dapat dilihat atau bahkan disentuh. Mereka harus dirasakan dengan hati

“The best and most beautiful things in the world cannot be seen or even touched – they must be felt with the heart”

Hellen Keller adalah salah satu orang yang paham arti dari kekurangan yang ia miliki. Walaupun buta dan tuli, ia tetap berjuang. Ia juga belajar bagaimana cara memandang dunia di tengah kegelapan yang menyelimuti. Dan salah satu kuncinya adalah rasakanlah dengan hati maka kamu dapat melihat keindahan di dalamnya.

2. Optimisme adalah keyakinan yang mengarah pada pencapaian. Tidak ada yang bisa dilakukan tanpa harapan dan kepercayaan diri

“Optimism is the faith that leads to achievement. Nothing can be done without hope and confidence”

Awalnya Hellen Keller merasa kesulitan untuk menumbuhkan rasa percaya diri dan optimisme. Melihat kondisinya yang berbeda dibanding orang lain. Tentu hal tersebut menjadi tekanan tersendiri. Namun ia tetap berjuang dan pada akhirnya dari proses panjang dengan menumbuhkan sisi optimisnya ia telah berhasil menjadi seorang Hellen Keller yang sekarang.

3. Toleransi adalah karunia pikiran terbesar, itu membutuhkan upaya pemikirian yang sama ketika menyeimbangkan diri saat bersepeda

“Toleration is the greatest gift of the mind; it requires the same effort of the brain that it takes to balance oneself on a bicycle.”

Hellen Keller sangat peduli terhadap toleransi. Ia menyebut toleransi layaknya seseorang yang bersepeda, perlu diseimbangkan. Hal tersebut tentu menyinggung kondisi masyarakat yang memandang sebelah mata orang-orang yang mengalami disabilitas. Padahal kenyataannya mereka juga memiliki banyak potensi seperti orang-orang lainnya.

4. Banyak orang yang salah paham tentang apa yang merupakan kebahagiaan sejati. Itu tidak dicapai melalui kepuasan diri tetapi melalui kesetiaan untuk tujuan yang layak

“Many persons have a wrong idea of what constitutes true happiness. It is not attained through self-gratification but through fidelity to a worthy purpose.”

Banyak orang yang mencari kebahagiaan dan kekayaan dengan berbagai cara. Tidak peduli baik atau buruk yang penting dirinya bahagia. Hellen Keller beranggapan kebahagiaan sejati tidak untuk dirasakan seorang diri. Tapi juga dengan tujuan untuk membantu sesama.

5. Ketika kita melakukan yang terbaik yang kita bisa. Kita tidak pernah tahu keajaiban apa yang terjadi dalam kehidupan kita, atau dalam kehidupan orang lain

“When we do the best that we can, we never know what miracle is wrought in our life, or in the life of another.”

Melakukan yang terbaik dan sungguh-sungguh telah dibuktikan seorang Hellen Keller. Ia bisa melakukan banyak hal dengan etos tersebut. Tidak hanya berguna bagi dirinya, tapi juga bisa menginspirasi orang lain.

6. Perguruan tinggi bukan tempat untuk mencari ide
College isn’t the place to go for ideas.”

Kalimat ini cukup kontroversial memang. Seperti yang ia tulis di autobiografinyaStory of My Life. Hellen Keller memandang bahwa dunia perkuliahan bukan tempat untuk mencari ide yang baik.

Walaupun begitu ia menjelaskan bahwa dunia perkuliahan adalah tempat yang cocok untuk belajar sejauh mungkin dan menggali ilmu dari orang yang sangat pintar. Menurutnya sebuah ide dan inspirasi dapat ditemukan dimana saja tidak terbatas hanya disitu

Facebook Comments

Continue Reading

Iklan

Trending