Connect with us

Ragam Berita

Polemik “Kitab Suci itu adalah Fiksi” Oleh Rocky Gerung, apa pendapat ahli?

Published

on

Jakarta, Fakta99.com – Pernyataan “Kitab Suci itu adalah fiksi” yang diucapkan oleh Dosen Filsafat Universitas Indonesia Rocky Gerung dalam acara Indonesia Lawyer Club (ILC), Selasa (10/04/2018) menimbulkan berbagai reaksi publik di media sosial, ada yang mendukung dan ada juga yang menentangnya.

Belum lagi 24 jam pernyataan tersebut diucapkan Rocky di ILC, Cyber Indonesia yang diwakili oleh Jack Lapian dan Permadani Arya mendatangi Mapolda Metro Jaya untuk melaporkan Rocky atas tuduhan tindak pidana menyebarkan ujaran kebencian.

“Kitab Suci dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kembali kepada Alquran, Injil, dan kitab agama lain. Kita punya keyakinan kok dibuat fiksi. Rocky Gerung ini meski tak sebutkan agama, secara mengucapkan fiksi sudah kena. Dia tidak bisa lagi ngeles,” kata Jack di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (11/04/2018).

Tidak hanya sampai disitu, Dosen Filsafat UI itu kembali dilaporkan atas tuduhan yang sama oleh Radjab Sahda Nasution, dengan laporan nomor TBL/2095/IV/2018/PMJ/Dit.Reskrimsus, Radjab melaporkan Rocky atas pelanggaran Pasal 28 Ayat (2) Jo Pasal 45 A Ayat (2) UU RI No 19 Tahun 2015 Perubahan atas UU RI No. 11 Tahun 2008 Tentang ITE dan atau Pasal 156 A KUHP.

Berbagai pihak turut berargumen soal pernyataan kontroversial di salah satu stasiun televisi swasta itu. Misalnya, pernyataan dari Ketua SETARA Institute Hendardi yang mengatakan kalau pasal penistaan terhadap agama adalah ‘pasal karet’.

“Pelaporan atas Rocky Gerung kembali mempertegas bahwa delik penyebaran kebencian atas SARA dalm pasal 28 ayat (2) UU ITE dan juga delik penodaan agama dalam Pasal 156a KUHP adalah pasal karet yang tidak memiliki batasan presisi pada jenis tindakan apa. Dengan rumusan yang sumir delik-delik semacam itu, bisa menjerat siapapun,” kata Hendardi dilansir dari IDN Times, Jumat (13/4).

Di sisi lain, ungkapan bernada kontra turut diutarakan oleh Mahfud MD. Melalui cuitan di media sosialnya @mohmahfudmd, mantan ketua Mahkamah Konstitusi itu menyampaikan kalau kitab suci bukanlah fiksi. Meski demikian, Mahfud tidak menapik kalau apa yang diutarakannya adalah bagian dari kebebasan berpendapat.

“Itu pendapat Rocky Gerung, silakan saja. Tapi bagi saya kitab suci bukan fiksi, jauh bedanya. Fiksi itu produk angan-angan atau khayalan manusia sedang kitab suci adalah wahyu dan pesan Tuhan. Saya meyakini, kitab suci adalah wahyu Tuhan yang ditanamkan di hati dan dipatrikan di otak orang yang beriman,” tulis Mahfud di akun twitternya, Rabu (11/04/2018).

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD berpendapat kasus Rocky Gerung seharusnya tak perlu dilaporkan ke polisi. Sebab, menurut dia, pernyataan Rocky soal kitab suci fiksi itu disampaikan dalam diskusi yang sedang membahas mengenai konsep.

“Tapi kalau ada yang mau melaporkan, ya, silakan saja,” kata Mahfud dilansir dari Tempo, Sabtu (14/04/2018).

Dalam cuitan di akun twitter-nya , Mahfud menilai Rocky Gerung seharusnya cukup bertanggung jawab secara keilmuan saja soal pernyataannya kitab suci fiksi. Menurut dia, Rocky tak harus bertanggung jawab pidana. “Kalau perlu biar dijernihkan dalam prespektif ilmu secara terbuka,” kata dia.

Pro-kontra terhadap pernyataan “Kitab Suci adalah fiksi” menyeret perhatian Komaruddin Hidayat. Guru Besar Filsafat Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta itu tertarik membedah ungkapan Rocky secara akademik dengan tulisannya yang berjudul “bahasa kitab suci”.

Dilansir dari Koran Sindo, Jumat (13/04/2018) Komaruddin mengawali perdebatan dengan mempertanyakan terlebih dahulu status kesakralan dari kitab suci. “Sebuah kitab suci itu dikatakan suci apakah memang secara instrinsik suci atau disucikan oleh umatnya?,”tulis Komarudin.

Oleh sebab itu, Komarudin menyampaikan bahwa terdapat kesepakatan secara politik dan kultural kalau setiap agama memiliki kitab suci yang harus diimani oleh setiap penganut atau komunitasnya.

“Maka wajar komunitas yang mengimaninya akan marah (jika dihina). Namun jika diskusi itu dibawa ke ranah filsafat dan teologi, kesucian itu relatif, maksudnya berkorelasi dengan sikap iman. Sebuah kitab suci bisa jadi akan diposisikan tak ubahnya sebuah buku layaknya buku-buku yang berjejer di toko buku bagi yang tidak mengimaninya, sekalipun oleh komunitas lain disucikan,” sambung Komarudin.

Lanjut Komarudin, jika Kitab disebut suci karena datang dari Allah, maka bagi orang yang beriman segala hal yang ada di muka bumi ini adalah datang dari Allah, atau bisa jadi segalanya adalah suci.

Bahasa yang digunakan dalam Alquran, tulis Komarudin, tidak bisa lepas dari konteks sosio-kultural mereka yang diturunkan firman-Nya alias Nabi.

“Karena kalau wahyu Tuhan tidak disampaikan dengan medium bahasa budaya, manusia tak akan memahaminya sehingga pesan Tuhan tidak bisa ditangkap manusia,” ungkapnya.

Kendati demikian, Islam memiliki kepercayaan bahwa Alquran merupakan firman Allah baik untuk redaksi dan isinya. Berbeda dengan Hadis yang merupakan sabda atau ungkapan Nabi Muhammad SAW.

“Dengan demikian, umat Islam selalu menjaga otentisitas kitab suci Alquran, diikuti dengan berbagai tafsiran untuk menggali kandungan maknanya. Terjemahan Alquran adalah bentuk tafsir tersingkat, karena ketika seseorang melakukan terjemahan sesungguhnya juga telah melakukan penafsiran ketika memilih padanan kata dan kalimatnya dalam bahasa dan budaya non-Arab,” sambung dia.

Secara lebih spesifik, Komar mengumpamakan konteks kitab suci kepada Alquran. Menurutnya, Alquran bukanlah buku sains, meski beberapa kandungannya memuat kajian sains. Namun, dia juga mengatakan kalau Alquran bukan buku sejarah, karena Nabi Muhammad buka sejarawan, meskipun isinya sebagian menceritakan kisah nabi terdahulu.

“Alquran bukanlah buku sains yang dibangun melalui kajian induktif-empiris melalui berbagai tahapan yang lazim dalam kajian sains. Adakalanya Alquran mengandung prediksi atau ramalan masa depan yang ternyata jadi kenyataan. Tetapi istilah “ramalan” bisa saja diperdebatkan, apakah berarti Tuhan dan Muhammad tukang ramal?,” beber dia panjang kali lebar

Begitupun dengan informasi dari Alquran perihal kehidupan setelah kematian, “Padahal secara empiris informasi tentang surga-neraka sulit divalidasi, karena bagi kita tidak cukup eviden atau bukti, sementara mereka yang pernah mati tak ada yang hidup kembali berbagi cerita kehidupan akhirat,” sambungnya.

Atas semua itu, Komaruddin ingin menyampaikan bahwa kitab suci memang memiliki bahasa yang unik. Diperlukan pendekatan dan pemahaman multidimensi untuk memaknainya.

“Kalau ada yang mengatakan kitab suci itu ‘fiksi’, apakah identik antara ‘fiksi’ dan ‘fiktif’, patut kita dengarkan argumentasi dari para ahli bahasa dan yang melemparkan istilah itu, sekalipun berbahasa itu lebih dari sekedar ucapan, tetapi ada intensi yang dituju,” imbuhnya.

Terkahir, Komaruddin menutup tulisannya dengan dampak positif yang dirasakan usai mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengutip surat Almaidah ayat 51 saat kunjungan kerjanya. Pernyataan kontroversial Rocky dirasa bisa menjadi pemicu bagi banyak kalangan untuk membedah diksi ‘fiksi’ dan Kitab Suci itu sendiri.

“Umat Islam ramai-ramai belajar tafsir tentang kata ‘auliya’ (sebagaimana termaktub dalam Almaidah 51). Sekarang Rocky Gerung melemparkan topik diskusi, apakah sahih kitab suci itu disebut ‘fiksi’ ?,” tutupnya. (*)

(Foto: oketimes.com)

Facebook Comments

Ragam Berita

Surabaya Menjadi Tuan Rumah Munas LAPMI ke VIII

Published

on

Fakta99.com – Surabaya – Lembaga Pers Mahasiswa Islam (LAPMI) Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) menggelar Musyawarah Nasional (MUNAS) ke VIII, di Wisma Guru PGRI, Wonokromo, Surabaya, Sabtu (8/9/2018).

Acara yang dihadiri oleh ratusan kader LAPMI HMI lintas daerah serta tamu undangan ini, secara resmi dibuka oleh Ketua Umum PB HMI yang diwakili oleh Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi (Infokom), Fauzi Marasabesy. Setelah resmi dibuka, acara dilanjutkan dengan workshop Literasi Media dengan narasumber Staf Khusus Presiden RI Bidang Keagamaaan, Dr. Siti Ruhaini.

Fauzi, mewakili Ketua Umum PB HMI memberikan apresiasi terhadap LAPMI sebagai lembaga semi otonom HMI. Dirinya berharap, dalam Munas kali ini, LAPMI dapat mengkonsolidasikan ide secara nasional, untuk menyamakan persepsi dengan kepemimpinan PB HMI demi mencapai cita-cita HMI.

“PB HMI berharap agar Munas LAPMI ke VIII bisa menghadirkan kepemimpinan seperti yang diharapkan guna melanjutkan perjuangan HMI,” lanjut Kabid Infokom PB HMI tersebut.

Menurutnya, LAPMI sangat bersinergi dengan bidang Kominfo PB HMI. Oleh karenanya menurut Fauzi, fasilitas yang sudah diakses oleh bidang Kominfo PB HMI kedepan bisa diisi ruang-ruang ide yang mencerminkan intelektualitas HMI.

Sementara itu, Direktur LAPMI PB HMI, Muhammad Shofa menjelaskan bahwa, MUNAS LAPMI tidak hanya sekedar regenerasi kepemimpinan, tetapi juga memberikan bekal basis pengetahuan kepada semua kader LAPMI tentang literasi media.

Selain itu, Shofa juga mengajak semua anggota LAPMI untuk menggebyarkan kembali islam washatiyah yang pernah lahir dari rahim HMI namun dilupakan oleh kader HMI saat ini. “Maka, momentum munas ini kita akan mengambil kembali wacana Islam Washatiyah yang pernah diWacanakan para pendahulu HMI,” tegasnya.

Munas merupakan forum pengambilan keputusan tertinggi bagi LAPMI PB HMI untuk menetapkan Pedoman Dasar/Pedoman Rumah Tangga, Menyampaikan Laporan Pertanggungjawaban, serta menetapkan Formateur dan Mide Formateur. Setelah resmi dibuka, nantinya akan dilanjutkan agenda sidang pleno Munas ke VIII LAPMI PB HMI hingga ditutup pada tanggal 12 September 2018.

Facebook Comments

Continue Reading

Ragam Berita

Arnita Rodelina Mahasiswi IPB Dicabut Beasiswa Karena Masuk Agama Islam

Published

on

Fakta99.com – Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Arif Satria mengatakan pihaknya akan mengusahakan agar Arnita Rodelina Turnip tahun ini bisa melanjutkan kuliah kembali di IPB. Arnita adalah mahasiswi IPB mendapat beasiswa dari Pemerintah Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, lalu beasiswa itu dicabut secara sepihak oleh Pemkab Simalungun diduga karena Arnita pindah agama menjadi Islam.

Akibat penghentian beasiswa itu, Arnita tidak melanjutkan kuliah di IPB sejak semester 2 karena tidak sanggup membayar biaya kuliah. Ia pun harus menunggak biaya ke IPB hingga mencapai Rp 55 juta. Arnita tercatat sebagai mahasiswi Fakultas Kehutanan di IPB angkatan 2015.

“Saya kira lagi diproses, Insya Allah bisa (kuliah lagi di IPB). Jadi statusnya kan bukan DO (Drof Out), tapi (mahasiswa) nonaktif. Dan dia punya semangat belajar tinggi dan bagus, ya kita aktivasi, dia mengajukan aktivasi, kita proses,” kata Arif dikutip Fakta99.com dari kumparan, Rabu (01/08/2018).

Arif menyatakan pihaknya saat ini akan fokus mengusahakan agar Arnita bisa kuliah kembali di IPB, sehingga untuk tunggakan uang yang dimiliki Arnita dapat dibicarakan kembali dengan pihak terkait lainnya. “Yang penting yang bersangkutan bisa aktif kembali, soal biaya dan sebagainya, itu kita selesaikan,” ucap Arif.

Semenjak tidak kuliah di IPB, Arnita mengambil kuliah kembali di Universitas Muhammadiyah Prof. Hamka (UHAMKA) Jakarta, namun Artina mengutarakan niatnya untuk kuliah kembali di IPB. Menanggapi hal itu, Arif mengemukakan pihaknya menyerahkan kepada Arnita sebagai sebuah pilihan.

“Mau pindah atau gimana ya terserah dia. Tapi yang jelas saya hanya usaha dengan beliau untuk urusan akademik saja. Aktivasi lagi, proses, enggak ada masalah,” tuturnya.

Arif menegaskan IPB tidak tahu menahu dengan adanya penghentian beasiswa yang dilakukan oleh Pemkab Simalungun karena dugaan Arnita pindah agama. Ia mengaku sudah mengirim surat konfirmasi kepada Pemkab Simalungun namun tidak mendapat jawaban yang pasti.

“Kurang tau (soal kasus ini). Kami udah minta surat untuk konfirmasi, emang tidak ada jawaban yang pasti, sebenernya kejadian ini kan tidak hanya satu, tapi beberapa. Artinya ada kabupaten yang memutus beasiswa itu bukan hanya ini aja, kadang-kadang ada pergantian kepemimpinan, bupati dan sebagainya. Ada faktor seperti itu, sehingga enggak diteruskan,” paparnya.

“Sebenarnya enggak ada masalah dengan IPB, dan sekarang sudah diproses untuk diaktivasi (status mahasiswa Arnita),” ujar Arif.

Penghentian pemberian Beasiswa Utusan Daerah (BUD) Pemerintah Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, kepada Arnita Rodelina Turnip menuai polemik. Sebab, ada dugaan penghentian beasiswa itu lantaran Arnita berpindah agama menjadi Islam. Kejadian itu terungkap saat ibunda Arnita bernama Lisnawati (43), warga Desa Bangun Raya, Simalungun, mengadu kepada Ombudsman RI Perwakilan Sumatera Utara.

Arnita menyakini Pemkab Simalungun mencabut beasiswa itu sejak dia memutuskan untuk menjadi seorang Muslim. Hal itu disebabkan karena tak ada satu poin pun pelanggaran yang dia lakukan saat menerima beasiswa tersebut.

“Saya tidak melanggar satu pun dari MoU. Indeks Prestasi (IP) saya di atas 2,5. Saya juga membuat Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ), tapi di semester dua, teman-teman saya dananya cair, saya doang yang tidak. Namun saya tetap kuliah lanjut semester tiga hingga lanjut UTS,” kata Arnita, Selasa (31/7).

MoU yang dimaksud Arnita adalah surat pernyataan yang ditanda tangani di atas materai olehnya pada 2015 silam. Dalam surat pernyataan itu, disebutkan bahwa penerima beasiswa akan gugur apabila tidak mendapat IP tak lebih dari 2,5, dikeluarkan dari kampus (dropped out), hingga tidak menyelesaikan laporan pertanggungjawaban.

Pemerintah Kabupaten Simalungun membantah pemberhentian program beasiswa kepada Arnita dengan alasan pindah agama. Sekretaris Daerah Pemkab Simalungun, Gideon Purba mengungkapkan alasan pemberhentian beasiswa tersebut dikarenakan Arnita sempat tidak aktif kuliah.

“Jadi begini, bukan karena itu (pindah agama), tapi memang dia enggak aktif kuliah, gitu aja,” ujar Gideon kepada kumparan, Selasa (31/7).

Sementara Kepala Ombudsman Abyadi Siregar mengatakan pihaknya akan menindaklanjuti terkait laporan itu. “Ini kasus sangat sensitif. Laporannya ke Ombudsman, ada kebijakan Pemkab Simalungun diduga berbau SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan),” kata Abyadi dalam keterangan yang diterima kumparan, Senin (30/07/18).

Dikutip dari kumaran

Facebook Comments

Continue Reading

Ragam Berita

UGM, UI Hingga UGM Masuk Daftar 200 Universitas Terbaik Asia

Published

on

Fakta99.com – Lembaga pemeringkat, 4ICU Uni Rank, kembali merilis data peringkat 200 universitas terbaik di Asia. Terdapat 8 universitas asal Indonesia yang masuk daftar tersebut.

Pemeringkatan 4ICU adalah lembaga dunia yang merangking seluruh Universitas di dunia dinilai dari berbagai faktor, seperti secara resmi diakui, berlisensi dan atau diakreditasi oleh badan-badan nasional atau regional seperti Departemen Pendidikan Tinggi atau organisasi akreditasi yang diakui pemerintah.

Resmi berlisensi atau berwenang untuk memberikan setidaknya gelar sarjana empat tahun (Gelar Sarjana) dan atau gelar pascasarjana (Gelar Master dan Doktor). Menyediakan program pendidikan tinggi terutama dalam format pembelajaran tatap muka tradisional yang disampaikan melalui fasilitas di tempat.

Berdasarkan perhitungan 4ICU Uni Rank, terdapat 8 universitas negeri yang masuk perhitungan. Berikut ini daftarnya tahun 2018 seperti dilansir laman resmi 4icu, Jakarta, Senin (30/7/2018)

  1. Universitas Gajah Mada di posisi 43;

  2. Universitas Indonesia di posisi 107;

  3. Universitas Sebelas Maret di posisi 120;

  4. Universitas Diponegoro di posisi 171;

  5. Institut Pertanian Bogor di posisi 175;

  6. Universitas Brawijaya di posisi 181;

  7. Universitas Airlangga di posisi 184; dan

  8. Universitas Negeri Yogyakarta di posisi 190.

Facebook Comments

Continue Reading

Iklan

Trending