Connect with us

Humanoria

Bule ini Lancar bahasa padang dan indonesia

Published

on

 

Facebook Comments

Continue Reading

Humanoria

Menjadi Pemimpin Level 5

Published

on

FAKTA99.COM – Jim Collins terkenal dengan dua buku yang fenomenal. Pertama berjudul “Built to Last”. Buku kedua berjudul “Good to Great”.

Buku pertama berfokus pada pertanyaan: apa rahasia yang dimiliki sebelas perusahaan global dari berbagai industri, untuk bertahan selama puluhan dan ratusan tahun, bahkan menjadi nomor satu di dunia.

Buku kedua didasarkan oleh pertanyaan: apa rahasia transformasi perusahaan dari nilai “baik” (good) menjadi perusahaan yang “sangat hebat” (great) ?

Ada banyak hal menarik dari hasil penelitian Collins beserta dua puluh orang asistennya selama lima tahun dengan metodologi ilmiah yang sangat solid, yang menjadi bahan dasar buku “Good to Great”.

Collins berkali-kali berpesan kepada tim risetnya untuk tidak memedulikan faktor pemimpin dalam mencari kunci sukses perusahaan.

Ia menganggap kepemimpinan cenderung didramatisir, yaitu kalau perusahaan sukses, itu pasti karena pemimpinnya, demikian juga kalau gagal.

Namun, setiap kali menganalisa tumpukan data-data riset yang menggunung, mau tidak mau mereka menemukan bahwa kepemimpinan adalah faktor yang sangat vital dalam menentukan suksesnya perusahaan.

Semua perusahaan yang mereka teliti, yang telah mengalami terobosan transformatif dalam kinerja dan mampu mempertahankannya secara terus-menerus selama puluhan, bahkan ratusan tahun, ternyata memiliki pemimpin dengan dua karakteristik utama: “personal humility” (kerendah-hatian) dan “professional will” (ambisi profesional).

Kombinasi kedua karakteristik ini menjadi paradoks. Pemimpin yang disebut Collins sebagai “Level 5 Leaders” ini adalah para pemimpin yang rendah hati, tidak menyombongkan diri, bahkan cenderung “pemalu”.

Mereka menunaikan tugas dengan diam-diam tanpa berupaya mencari perhatian dan pujian publik. Apabila mendapat keberhasilan, mereka selalu berusaha untuk memberikan kredit kesuksesan itu kepada orang lain atau hal lain di luar diri mereka sendiri.

Sebaliknya, apabila ada kegagalan, mereka bertanggung jawab secara pribadi dan tidak mencari kambing hitam.

Ambisi mereka adalah untuk kehebatan dan kelanggengan perusahaan atau organisasi, bukan untuk popularitas, kehebatan dan kepentingan diri sendiri.

Sudahkah kita menjadi pemimpin level 5?

Diposting dr. Eifel Faheri.

Facebook Comments

Continue Reading

Humanoria

Pendidikan Berbasis Ilahiyah

Published

on

CILEGON, FAKTA99.COM – Didalam Islam, anak anak adalah “investasi abadi” bagi para orangtua mereka. Karena amal dan do’a anak anak yang sholeh dan sholehah akan kekal mengalir pahalanya untuk orangtua. Sebaliknya amal buruk anak keturunan akan menjadi beban bagi orang tua mereka di yaumul hisab. Karena itu dalam konteks tanggung jawab orang tua sepanjang hidupnya, wajib menanamkan nasihat, doktrin doktrin serta nilai nilai agama Islam walaupun anak sudah dewasa, tidak boleh dibatasi oleh ruang dan waktu sepanjang hayat.

Ini tentu berbeda dengan konsep liberal yang permissif memberikan ruang kebebasan tanpa batas, yang jauh dari ajaran agama. Dianggapnya bahwa anak punya pilihan hidup sendiri bukan urusan kita lagi ketika mereka dewasa, ini sebuah perspektif pemikiran yang sungguh keliru !. Dalam konteks anak memilih profesi sesuai passion (ghirah, atau minat yang kuat) dan bakat (talent) mereka, tidak masalah jika merujuk pada filosofi Kahlil Gibran, bahwa “rumah masadepan” anak boleh saja berbeda dengan orangtua mereka saat ini. Tapi Gibran, yang puisinya jadi inspirasi banyak orang tua di dunia, tidak secara utuh menginspirasi pendidikan karakter. Ingat bahwa “isi rumah” masa depan anak anak tetaplah tanggung jawab orangtua sepanjang hayat. Anak panah tidak boleh melesat sekenanya.

Sama saja halnya jika kita berinvestasi di tataran konvensional, tentu akan selalu menjaga dan memonitor “at all costs” agar investasi tersebut tetap terjaga fluktuasinya dalam batas batas aman, well running dan menghasilkan ‘rate of return’ (r.o.r) yang bagus bagi investornya di kemudian hari. Ada 5 doktrin pendidikan berbasis ilahiyah, yaitu,

  1. Doktrin Akidah

  2. Doktrin Ahlak

  3. Doktrin Kesalehan individual dan kesalehan sosial, termasuk adab terhadap lingkungan dan alam sekitar.

  4. Doktrin hubungan interpersonal

  5. Doktrin kepemimpinan

ANCAMAN/TANTANGAN nya adalah bagaimana meyakinkan semua pemangku kepentingan sektor kependidikan di Indonesia soal pentingnya memasukkan doktrin doktrin tersebut yang sejatinya diadopsi dari nilai nilai spiritual kedalam aktivitas belajar mengajar. Serbuan pengaruh globalisme di dunia nyata tampaknya lebih bisa ditangkal, namun generasi digital mengalami ujian berat karena serbuan aneka informasi di dunia maya, nyaris tak ada sensor, sementara separuh waktu kegiatan generasi milenial dan generasi mendatang (Z) hampir bisa dipastikan terhubung dengan cyberworld. Membendungnya kecil kemungkinan kalau harus memblokir aktivitas internet. Yang bisa dilakukan tidak lain adalah memperkuat ketahanan intelektual, ketahanan emosional serta ketahanan spiritual mereka menghadapi tantangan hebat teknologi informasi dan multimedia.

Mengenalkan para peserta didik dengan doktrin doktrin ilahiyah bisa dilakukan tidak saja di tataran teori, tetapi juga lewat tadabbur alam, dan ini harus dilakukan sejak dini, anak anak harus mengenal Tuhannya dengan baik, bahkan sebelum mereka diperkenalkan dengan ilmu ilmu lainnya. Dan doktrin ini harus konsisten ditanamkan tanpa kecuali disetiap tingkatan pendidikan.Istilahnya menjadi sebuah “lifelong learning”, ditekankan tentang pentingnya pengabdian total kepadaNya, ini jauh lebih penting daripada belajar itu sendiri. (*)

by RoelMoez

Facebook Comments

Continue Reading

Humanoria

Datanglah Agama Baru Bernama Dataisme – Homo Deus- A Brief History of Tomorrow

Published

on

FAKTA99.COM – Apa yang membuat manusia merasa superior atas alam dan seisinya? Apa yang membedakan manusia dengan serigala, paus, harimau? Apa yang terjadi besok, apakah manusia akan hilang dari muka bumi?

Pertanyaan-pertanyaan dasar yang muncul di dalam buku Homo Deus, sejarah tentang masa depan yang ditulis oleh Yuval Noah Harari. Buku yang dia tulis sebelumnya berjudul Sapien menggambarkan sejarah tentang manusia, siapa kita, kenapa manusia modern berhasil menyingkirkan saudara-saudara kita sebelumnya? Ada enam jenis manusia dalam sejarah, terakhir adalah Neaderthal yang disingkirkan oleh manusia modern. Di bagian akhir Homo Deus, Harari wanti-wanti ini bukan buku ramalan, dia hanya menggambarkan apa yang sebenarnya sedang terjadi dan apa saja yang mungkin terjadi berdasarkan hal tersebut.

Buku ini menarik dibaca karena menyederhanakan bahasa sains yang ngejelimet bahkan setelah turun di National Geographic. Saya menyukai gaya penulisannya yang dilengkapi dengan banyak contoh dan pertanyaan-pertanyaan sederhana dan membumi. Buat saya yang bukan berlatar belakang sains pasti seperti IPA, tentu saja ini berkah.

Harari membeberkan kenyataan bahwa sains dan agama selalu bertentangan tapi juga selalu beiringan. Agama menyebutkan manusia memiliki kelebihan karena memiliki ruh yang ditiupkan Tuhan ke dalam raga manusia. Tapi dalam sejarah ilmu pengetahuan pasti, para ilmuwan tidak bisa menemukan kehadiran ruh dalam tubuh manusia. Iya, manusia memiliki akal, tapi tak ada ruh seperti juga hewan lainnya. Lalu ruh itu apa?

Satu-satunya alasan yang bisa membuat manusia merasa superior dari hewan adalah kemampuannya menulis, tentang sejarah keberadaannya. Tanpa itu, manusia tak lebih dari hewan yang bisa dijelaskan secara keilmuwan tentang kemampuan raganya beradaptasi dengan kehidupan.

Di buku ini Harari menjelasan perjalanan dogma yang membuat manusia hidup sebagai makhluk social dengan normanya yang diatur dalam agama sebagai imagined order, lalu paham politik seperti komunisme, liberalisme dan humanisme. Liberalisme – Humanis adalah kita hari ini, bahwa kita memiliki kebebasan individu yang mutlak, bebas memilih, bebas berpikir bahwa dunia ini bergerak karena kemampuan kita pribadi sebagai manusia. Or is it?

Lalu datanglah dimana dimana Tuhan baru bernama Data itu muncul. Tuhan atau Dewa yang lahir dari Silicon Valley, yang mengumpulkan data untuk kemudian diolah dan dikembalikan sebagai ‘pilihan’ yang tersedia untuk manusia. Data adalah sumber kehidupan. Data lebih tahu daripada diri kita sendiri. Data mengontrol kehidupan kita sebenarnya. Bahwa manusia tak lebih dari algoritma yang bisa diatur tentang pengalamannya, emosinya dan keputusannya. Facebook dan Google tahu lebih banyak tentang diri kita dan masa depan daripada kitab suci yang dibuat oleh manusia ratusan tahun silam.

Pada akhirnya manusia akan tergantikan oleh manusia-manusia super dengan intelejensia super, yang Harari sebut sebagai Homo Deus. Kita akan musnah, kecuali jika terus mengupgrade dan mengupdate semua informasi dan data yang tersebar bebas di dunia maya dan nyata. Tapi bahkan ilmuwan tak membaca jurnal setiap saat, lalu kita?

Kalimat-kalimat yang tertulis di sampul belakang buku sangat menarik untuk dicatat:

You are more likely to commit suicide than be killed in conflict

You are more at risk of obesity than starvation

Equality is out – immortality is in.

Semakin canggih teknologi, semakin tinggi kesenjangan yang terjadi di dunia. Karena teknologi mahal harganya yang hanya bisa dinikmati oleh WEIRD – Western, Educated, Industrialised, Rich and Democratic society yang tidak mewakili sampel manusia secara keseluruhan.

Baca aja deh, Homo Deus ini ga cocok buat kamu yang bersumbu pendek karena ada banyak yang menyinggung soal ulama, pendeta dan rabi yang tidak berguna bagi kesejahteraan dan kebahagian manusia karena hanya menjual ‘khayalan’ dan tidak memberikan kontribusi pada kehidupan kecuali sejarah tentang kekerasan.

#nroshita

Facebook Comments

Continue Reading

Iklan

Trending